Oleh : Bahar Mahmud, S.Pd.Gr
Aku belum pernah menemukan korelasi yang kuat antara kejeniusan dan cinta sejati dalam buku-buku yang pernah kubaca. Tetapi aku mulai memberanikan diri untuk merenung, mencoba menemukan makna di balik dua kata: jenius dan cinta.
Entah apa yang dipikirkan oleh Pemerintah Kota Parepare sehingga nama Habibie–Ainun begitu melekat di kota ini. Dahulu, dalam beberapa kelas, aku sering menceritakan sosok Habibie dari sudut pandang kejeniusannya. Keberhasilan Habibie membuat pesawat pertama kali di Indonesia adalah bukti bahwa otak beliau bukan “kaleng-kaleng”.
Sosok Presiden ketiga Indonesia ini lahir di Kota Parepare. Nama besarnya digunakan untuk menamai rumah sakit dan stadion sepak bola. Bahkan, Pak Habibie secara khusus dibuatkan sebuah monumen yang kini kita kenal dengan nama Monumen Cinta Sejati Habibie–Ainun.
Alhamdulillah, aku kembali berkesempatan menginjakkan kaki di Kota Parepare setelah 31 tahun lamanya.
Domain kejeniusan adalah otak, sementara domain cinta adalah hati. Sering kali kita melihat orang yang bekerja keras menggunakan otaknya, namun lupa bahwa ia memiliki hati yang juga haus akan cinta. Itulah sebabnya mengapa beberapa ilmuwan berhasil dalam penelitian, tetapi gagal dalam urusan cinta.
Sebut saja Isaac Newton, yang terlalu sibuk dengan penelitiannya hingga tak memiliki waktu untuk urusan cinta. Bahkan, hingga wafat, ia tidak pernah menikah.
Nikola Tesla pun membujang seumur hidup. Ia bahkan percaya bahwa hubungan romantis akan mengganggu kreativitas dan kejeniusannya.
Namun, berbeda dengan Bapak B.J. Habibie. Meski beliau seorang ilmuwan yang sangat jenius, ia tetap berhasil dalam urusan cinta. Beliau memilih untuk setia pada satu wanita. Sosok Ainun adalah wanita beruntung karena mendapatkan hati seorang Habibie. Pembuktian keberhasilan cinta itu terlihat jelas setelah wafatnya Ibu Ainun. Habibie memilih untuk tidak menikah lagi hingga ia sendiri berpulang.
Cinta Sejati adalah ketika kamu mampu melihat pasanganmu sebagai bagian dari jiwamu sendiri. Ainun adalah mataku untuk melihat Hidup.” BJ. Habibie
Kalimat ini menggambarkan betapa dalam dan tulusnya cinta Habibie kepada Ainun.
“Ainun adalah Mata saya, dan ketika Ia pergi, saya seperti kehilangan separuh Penglihatan saya”
Kalimat ini pun mempertegas bahwa cinta Habibie terhadap Ainun tak bisa diukur dengan kata-kata.
Seseorang bisa saja memiliki kejeniusannya, tetapi memiliki cinta sejati adalah anugerah takdir yang harus diikhtiarkan.
Parepare, 20 Juli 2025













