TARAKAN – Habib Rizieq Shihab dijadwalkan akan bertolak ke Kota Tarakan dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad pada Sabtu 20 September 2025 menuai penolakan dan dukungan dari masyarakat yang mengatasnamakan aliansi Masyarakat Kaltara. Sehingga wacana tersebut mendapatkan perhatian besar masyarakat Kota Tarakan.
Saat dikonfirmasi, Perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Asli Kalimantan Utara, Hermansyah menerangkan, pihaknya bersama puluhan organisasi masyarakat (ormas) menolak kedatangan Habib Rizieq Shihab lantaran dinilai dapat memecah belah masyarakat. Sehingga pihaknya tidak ingin Habib Rizieq Shihab menginjakkan kaki di Kota Tarakan.
“Kami sebagai Aliansi Masyarakat Asli Kalimantan Utara, menolak kedatangan Habib Rizieq Shihab. Alasan kami karena rekam jejak bersangkutan tidak baik dan bertentangan dengan pemerintahan kita. Sedangkan ormasnya dulu sampai dibubarkan, itu kan sebagai contoh dia tidak baik. Sehingga kami menolak kedatangan bersangkutan karena kami khawatir bersangkutan memberikan ceramah-ceramah provokatif yang bisa memecah belah umat,” ujarnya, Selasa (16/9).
“Sampai hari ini dari Kesbangpol juga tidak mengizinkan, Pemerintah Tarakan juga tidak mengizinkan bahkan DPRD pun tidak mengizinkan. Kami juga muslim, tapi kami bukan tidak setuju dengan acara maulidnya tapi kami tidak setuju dengan tokoh yang didatangkan dalam hal ini Habib Rizieq,” sambungnya.
Dikatakannya, saat ini cukup banyak tokoh agama maupun ulama yang dinilai dapat memberikan ceramah menyejukkan. Sehingga pihaknya menyayangkan mengapa panitia dalam hal ini Aliansi Aksi Solidaritas Kaltara Untuk Palestina mengundang ulama yang juga menjadi nahkoda Ormas Front Persaudaraan Islam (FPI) tersebut.
“Kan banyak tokoh-tokoh agama ulama di Indonesia yang lain yang bisa diundang kenapa harus dia (Habib Rizieq) yang datang. Tempat-tempat yang mereka rencanakan dijadikan tempat acara juga banyak yang menolak, tapi mereka tetap ngotot mau ngadakan,” tuturnya.
Ia membeberkan agenda tersebut sebelumnya tidak mendapatkan izin dari pemerintah. Sehingga menurutnya sebaiknya panitia menghargai otorita setempat.
“Kami juga tidak mau berkomunikasi dengan mereka (panitia) tapi kami sudah komunikasi dengan pemerintah dan pemerintah menolak. Kami mengkhawatirkan kalau mereka (Aliansi Aksi Solidaritas Kaltara Untuk Palestina) tetap datang, maka Tarakan ini akan ribut. Ada juga kasus tokoh agama di Tarakan yang tanda tangan tapi sebenarnya mereka tidak tahu yang datang siapa, jadi mereka merasa tertipu,” lanjutnya.
Sementara itu Sekertaris Panitia Acara Aliansi Aksi Solidaritas Kaltara Untuk Palestina Ahmad Irwan mengungkapkan, pihaknya menghargai adanya beberapa ormas yang menolak kehadiran Habib Rizieq. Kendati demikian ia mengingatkan masyarakat yang menolak tidak menganggu agenda Maulid yang dilaksanakan Aliansi Aksi Solidaritas Kaltara Untuk Palestina tersebut.
“Kalau masalah penolakan, mereka tidak setuju, tidak suka dengan misalnya membuat baliho, flayer, menyatakan sikap di media dan sebagainya itu tidak masalah. Ini kan hak berdemokrasi, siapa pun boleh mengutarakan ekspresinya. Bagi kami itu tidak masalah,” katanya.
“Cuma kami mengingatkan saja kepada pihak-pihak yang menolak atau bagaimana, jangan coba-coba untuk melakukan persekusi atau pun menghadang kedatangan di bandara. Karena itu kan melanggar aturan. Tidak menjaga kondusifitas dan ada upaya untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran bahkan mengancam nyawa orang,” ucapnya.













