TARAKAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut jumlah struktur sesar aktif di Kalimantan lebih sedikit dibanding pulau-pulau lain di Indonesia. Meski begitu, posisi Kalimantan jauh dari zon tumbukan lempeng (megathrust), sehingga suplai energi yang membangun medan tegangan terhadap zona seismogenik di Kalimantan tidak sekuat dengan akumulasi medan tegangan zona seismogenik yang lebih dekat zona tumbukan lempeng. Meski begitu, karena beberapa struktur sesar di Kalimantan kondisinya sudah berumur tersier sehingga segmentasinya banyak yang sudah tidak aktif lagi dalam memicu gempa. Hal itu diungkapkan Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono
Kalimantan Pernah Tsunami Efek Gempa
Daryono mencatat, ada sederet kejadian gempa yang pernah mengguncang Kalimantan. Kejadian gempa tersebut juga merusak, bahkan pernah memicu tsunami.
Berikut daftar gempa merusak di Kalimantan:
1. Gempa Sangkulirang pada 14 Mei 1921, dengan skala intensitas VII-VIII MMI, menyebabkan banyak rumah rusak dan terjadi tsunami
2. Gempa Tarakan pada 19 April 1923 dengan skala intensitas VII-VIII MMI, menyebabkan banyak rumah rusak
3. Gempa Tarakan pada 14 Februari 1925 dengan skala intensitas VI-VII MMI, menyebabkan banyak rumah rusak
4. Gempa Tarakan pada 18 Februari 1936 berkekuatan M6,5, menyebabkan banyak rumah rusak
5. Gempa Pulau Laut pada 5 Februari 2008 berkekuatan M6,5, menyebabkan kerusakan ringan
6. Gempa Tarakan pada 21 Desember 2015 berkekuatan M6,1, menyebabkan banyak rumah rusak
7. Gempa Kendawangan pada 24 Juni 2016 berkekuatan M5,1 memicu kerusakan ringan
8. Gempa Katingan pada 14 Juli 2018 berkekuatan M4,2 memicu kerusakan ringan.
Pemicu dan Dampak Gempa Tarakan
Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Rasmid mengatakan, gempa tersebut merupakan jenis gempa bumi kedalaman dangkal akibat aktivitas Sesar Tarakan.
BMKG mencatat laporan masyarakat terkait dampak gempa:
– gempa dirasakan di Tarakan dengan intensitas IV-V MMI (getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang, dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti)
– Pulau Bunyu dengan intensitas IV MMI (dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi)
– Tanjung Selor, Berau, Nunukan dengan intensitas III-IV MMI (dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi)
– Malinau dengan intesitas III MMI ( Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa seakan-akan ada truk berlalu).
Ditambahkan, gempa merusak itu menyebabkan atap lantai 2 Ramayana Kota Tarakan berjatuhan, atap lantai 2 Bandara Juwata Tarakan berjatuhan, serta tembok rumah di Kampung Empat dan Mamburungan Kota Tarakan roboh.
“Gempa merusak karena kedalaman gempa yang dangkal, tanah lunak, serta akibat bangunan kualitas rendah,” kata Daryono menjelaskan penyebab gempa Tarakan (5/11/2025) merusak.
Jauh dari Zona Megathrust, Tapi Ada Sesar Aktif
Seperti diketahui, Indonesia dikepung 13 zona megathrust. Di mana, ada 2 lokasi yang menurut BMKG sudah ratusan tahun belum mengeluarkan energi besarnya. Sehingga, BMKG mengingatkan potensi ancaman besar yang disimpan 2 zona ini, yaitu Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Kalimantan disebut cukup jauh dari lokasi zona megathrust di Indonesia.
Tapi, ternyata Kalimantan menyimpan sesar aktif, yaitu Sesar Tarakan, Sesar Mangkalihat, dan Sesar Meratus.
Menurut Daryono dalam Seminar Kegempaan : Memahami Potensi Gempa Bumi di Kalimantan Selatan (Kamis, 21/8/2025) lalu menjelaskan, Sesar Meratus adalah sesar aktif yang berpotensi dapat memicu gempa hingga magnitudo 7,0.
“Sejarah gempa di Kalimantan Selatan telah tercatat sejak abad ke-19 (misalnya gempa Banjarmasin tahun 1936, gempa Barabai tahun 2024). Tsunami juga pernah terjadi di pesisir Kalimantan Selatan (misalnya tsunami di Pantai Pagatan tahun 1917),” katanya, dikutip dari situs resmi Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Kamis (6/11/2025).
“Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari gempa karena terpengaruh oleh aktivitas tektonik dari Sulawesi dan Laut Jawa. Maka, pentingnya bangunan tahan gempa dan edukasi masyarakat untuk mengurangi risiko korban jiwa,” tegas Daryono.













