Selasa, Februari 3, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
  • Disclaimer
  • TV Online
HeadlineKU
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini
No Result
View All Result
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini
No Result
View All Result
HeadlineKU
No Result
View All Result
Home Opini

Padamnya “Pelita”: Ketika “Api” Kebodohan Lebih Didengar daripada Suara Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Redaksi Headlineku by Redaksi Headlineku
24 November 2025
in Opini, Pendidikan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Bahar Mahmud, S.Pd. Gr

Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengutip UUD 1945 Amandemen ke-4:
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Dari amanat konstitusi ini, kita memahami bahwa negara memiliki tekad besar untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas bukan hanya kualitas raganya, tetapi juga kualitas jiwanya melalui pendidikan. Negara bahkan menyiapkan anggaran 20% dari APBN demi memastikan tujuan mulia ini tercapai.

Namun di negeri yang memiliki cita-cita luhur membangun peradaban melalui pendidikan ini, kita justru menyaksikan ironi yang menyakitkan. Pelita-pelita bangsa yang bergelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa perlahan dipadamkan oleh kebodohan yang sering berlindung di balik regulasi.

Hari Guru Nasional tahun ini seharusnya menjadi momentum penghormatan. Tetapi apa artinya penghormatan jika pada saat yang sama, tangan-tangan para guru justru dibelenggu ketakutan?

Kita hidup di era ketika guru bisa dipenjara hanya karena menjalankan disiplin pendidikan, sementara perilaku yang merusak karakter bangsa sering dibiarkan tumbuh tanpa arah. Guru yang dahulu dihormati sebagai pelita penerang jalan gelap, kini diperlakukan seolah mereka ancaman.

Di banyak tempat, guru tak lagi bebas mendidik.
Setiap teguran dianggap kekerasan.
Setiap pendisiplinan dianggap kriminal.
Setiap upaya membentuk karakter dianggap melampaui batas.

Lalu kita bertanya-tanya:
Mengapa kualitas pendidikan merosot?
Mengapa karakter generasi muda semakin rapuh?
Mengapa kecerdasan emosional dan moral terasa menipis?

Jawabannya sederhana: karena pelitanya kita matikan sendiri.

Kita membiarkan para guru berjalan di lorong pendidikan dengan rasa was-was, takut dilaporkan, takut dipidana, takut diviralkan. Padahal tidak ada bangsa maju yang membuat para gurunya takut. Tidak ada peradaban hebat yang memaksa pendidiknya diam. Tidak ada masa depan cerah yang lahir dari regulasi yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Sementara pelita itu padam satu per satu, api kebodohan justru menyala.
Ia menyala dalam bentuk sistem pendidikan yang lebih sibuk mengejar angka daripada karakter.
Orang tua yang menuntut guru sempurna, tetapi lupa mendampingi anak-anak mereka pada momen terpenting hidupnya.
Masyarakat yang cepat menghakimi guru tanpa melihat konteks.
Hukum yang tak memberi ruang bagi pendidik untuk menegakkan disiplin secara manusiawi.

Api kebodohan itu menyala bukan karena kita tidak punya guru,
tetapi karena kita tidak lagi mendengar mereka.

Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni atau ucapan klise. Ini adalah refleksi keras bahwa bangsa yang menghukum gurunya adalah bangsa yang sedang menggali kuburnya sendiri pelan tapi pasti.

Peradaban tidak runtuh oleh kurangnya teknologi.
Peradaban runtuh ketika orang bijak dibungkam, sedangkan suara-suara bising tanpa makna justru diikuti.

Maka, sebelum semuanya terlambat, sebelum pelita terakhir padam dan api kebodohan membakar ruang belajar serta masa depan anak-anak kita. Maka kita harus memilih untuk kembali mendengar guru.
Melindungi mereka.
Memberi ruang bagi mereka untuk mendidik dengan wibawa, bukan ketakutan.
Menghormati mereka, bukan hanya memajang wajah mereka di spanduk dan media sosial.

Hari Guru Nasional adalah cermin.
Dan hari ini, cermin itu memperlihatkan wajah bangsa yang harus berani berubah.

Karena tanpa guru, tidak ada bangsa.
Dan tanpa keberanian untuk melindungi guru, tidak ada masa depan yang layak diperjuangkan.

Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Guru Hebat, Indonesia Kuat.

Previous Post

Kunjungan ke Kaltara Diakui Berkesan, Presiden PKS : Kaltara Miliki Potensi Perikanan Yang Luar Biasa

Next Post

Di Banyak Daerah Menunggu Keajaiban, di Krayan Rafflesia Justru Mekar Dekat Permukiman

Redaksi Headlineku

Redaksi Headlineku

Next Post

Di Banyak Daerah Menunggu Keajaiban, di Krayan Rafflesia Justru Mekar Dekat Permukiman

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Ajak Orang Tua Sosialisasikan Dampak Penggunaan Gawai

25 Juli 2023

Akibat Kecanduan Narkoba, IRT Rela Disetubuhi Pengedar

17 November 2021

Pembangunan SUTET Masuk Tahap Konsultasi Publik

1 Agustus 2023

Niat Cari Rumput, Warga Kelurahan Karang Harapan Temukan Mayat Pria Di sungai

14 Juni 2021

Bantuan Listrik Gratis, Wujud Keadilan Energi di Kaltara

3782

Dapat Perahu Baru, Sanusi Siap Kembali Melaut

3554

Insentif Guru dan Tenaga Kependidikan Disalurkan Bulan Depan

3388

Pembangunan SUTET Masuk Tahap Konsultasi Publik

3381

Api Lalap Bagian Bawah Masjid As-Sholihin, Kerugian Capai Ratusan Juta

31 Januari 2026

Dishub Dinilai Pasif, Kerja Sama Ojol di Bandara dan Pelabuhan Kaltara Tersendat

29 Januari 2026

DPRD Kaget, Perjalanan Dinas Disdukcapil Tarakan Cuma Dua Kali Setahun

29 Januari 2026

Dalam Sebulan Turun Dua Kali, Petani Rumput Laut Pantai Amal Gigit Jari

27 Januari 2026

Recent News

Api Lalap Bagian Bawah Masjid As-Sholihin, Kerugian Capai Ratusan Juta

31 Januari 2026

Dishub Dinilai Pasif, Kerja Sama Ojol di Bandara dan Pelabuhan Kaltara Tersendat

29 Januari 2026

DPRD Kaget, Perjalanan Dinas Disdukcapil Tarakan Cuma Dua Kali Setahun

29 Januari 2026

Dalam Sebulan Turun Dua Kali, Petani Rumput Laut Pantai Amal Gigit Jari

27 Januari 2026
HeadlineKU

© 2024 - Headlineku.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
  • Disclaimer
  • TV Online

No Result
View All Result
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini

© 2024 - Headlineku.com