TARAKAN – Kemunculan buaya di Embung Persemaian, Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Barat, bukanlah kejadian pertama. Sebelum insiden penyerangan terhadap Theresia, predator tersebut sudah beberapa kali menampakkan diri, bahkan telah berulang kali ditangkap.
Ketua RT 7 Karang Harapan, Petrus Pongtiku, mengungkapkan bahwa penangkapan buaya di lokasi tersebut setidaknya sudah terjadi tiga kali. Namun demikian, kemunculan buaya terus berulang.
“Sudah beberapa kali ada penangkapan buaya di situ. Setahu saya sudah tiga kali, tapi tiba-tiba muncul lagi,” ujar Petrus, Selasa (20/1/2026).
Keberadaan buaya yang tak kunjung hilang menimbulkan tanda tanya mengenai asal-usulnya. Petrus membantah dugaan bahwa buaya tersebut berasal dari penangkaran yang lokasinya tidak jauh dari embung.
“Kalau lepas dari penangkaran, seharusnya ikut alur sungai. Tidak mungkin masuk ke dalam embung,” tegasnya.
Menurut Petrus, wilayah Embung Persemaian memang merupakan habitat alami buaya sebelum dijadikan waduk. Ia mengaku telah lama tinggal di kawasan tersebut dan mengetahui bahwa sebelumnya buaya hanya memangsa ternak warga, bukan manusia.
Berdasarkan pantauan warga, diduga terdapat beberapa ekor buaya yang masih mendiami embung tersebut, termasuk dua ekor berukuran besar dengan panjang sekitar tiga meter, serta beberapa ekor berukuran kecil.
“Yang sering terlihat dua yang besar, ada juga yang kecil,” katanya.
Keberadaan buaya tersebut telah dilaporkan kepada pihak terkait. Sementara itu, warga sebenarnya sudah mengetahui risiko di lokasi tersebut dan papan peringatan juga telah dipasang. Namun, kondisi embung yang kini dipenuhi rumput membuat area tersebut kerap dimanfaatkan warga untuk mencari pakan ternak.
“Dulu waktu masih dikelola, lokasi ini bersih. Sekarang rumputnya tinggi, jadi sering dimasuki warga,” tutup Petrus.













