TARAKAN – Satu unit Vespa diserahkan di atas panggung buka puasa, kamera merekam, tepuk tangan mengalir. Di balik seremoni itu, Indosat Ooredoo Hutchison lewat brand Tri Indonesia menyampaikan dua pesan besar: jaringan mereka diklaim sudah 100 persen menjangkau Tarakan dan paket Ramadan 65GB Rp100 ribu disebut sebagai “Pilihan Bijak”.
Kaharini, pelanggan asal Tarakan, diumumkan sebagai pemenang program nasional Bombastri dan menerima Vespa secara simbolis dari manajemen Circle Kalisumapa. “Program ini berskala nasional dan menjadi bukti komitmen kami hingga ke daerah seperti Tarakan,” ujar Yogo Pandego Bagus Widodo di hadapan awak media.
Namun pernyataan yang lebih menyita perhatian justru datang setelahnya. “Untuk wilayah Tarakan, cakupan jaringan kami sudah 100 persen. Artinya seluruh wilayah dan penduduk sudah terlayani,” tegas Yogo.
Klaim “100 persen” terdengar absolut. Tetapi tidak ada paparan data teknis yang menyertainya. Tidak disebutkan berapa jumlah BTS aktif di Tarakan, bagaimana distribusinya, berapa rata-rata kecepatan unduh dan unggah, serta bagaimana performa jaringan pada jam sibuk. Publik hanya mendapat pernyataan sepihak tanpa pembuktian terukur.
Dalam praktik industri telekomunikasi, istilah “cakupan” sering kali berarti area yang sudah terpapar sinyal, bukan jaminan kualitas koneksi stabil. Sinyal terdeteksi tidak selalu berarti panggilan bebas putus atau internet konsisten untuk rapat daring dan streaming. Tanpa transparansi data, klaim tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, VP Head of Marketing Circle Kalisumapa, Tepi Aditia, mendorong paket Ramadan 65GB seharga Rp100 ribu. “Tidak hanya kuota besar, pelanggan juga mendapatkan perlindungan digital berupa fitur anti-spam dan anti-scam,” katanya.
Fitur keamanan digital menjadi nilai jual tambahan di tengah maraknya penipuan daring. Namun mekanisme teknisnya tidak dijelaskan secara rinci: apakah penyaringan dilakukan di level jaringan, aplikasi, atau berbasis laporan pengguna? Seberapa efektif memblokir modus baru yang terus berkembang? Tanpa data efektivitas, klaim tersebut masih sebatas janji pemasaran.
Momentum Ramadan, hadiah besar, dan klaim jaringan menyeluruh menjadi kombinasi promosi yang kuat. Pertanyaannya bukan pada sah atau tidaknya strategi itu—melainkan pada sejauh mana publik diberi informasi yang utuh. Vespa memang nyata di atas panggung. Paket 65GB juga jelas angkanya. Tetapi klaim 100 persen dan jaminan perlindungan digital masih membutuhkan pembuktian yang lebih transparan.
Di tengah persaingan operator yang ketat di Kalimantan Utara, publik tak hanya membutuhkan seremoni dan slogan. Yang diuji adalah konsistensi kualitas jaringan di lapangan—di rumah, di sekolah, di sudut kota yang jauh dari pusat keramaian. Karena pada akhirnya, bukan panggung yang menentukan, melainkan pengalaman pengguna sehari-hari.












