TARAKAN – Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan menggenjot kampanye digital di media sosial untuk meningkatkan kesadaran dan kepesertaan masyarakat terhadap program jaminan sosial ketenagakerjaan. Strategi ini bahkan mereka sebut sebagai “perang udara”, menyasar ruang digital yang dinilai paling cepat menjangkau masyarakat di wilayah Kalimantan yang geografisnya luas.
Wakil Kepala Kantor Wilayah Digitalisasi Human Capital dan Asset BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan, Ken Maharani, mengatakan hingga kini masih terdapat kesenjangan cukup besar antara target kepesertaan dengan realisasi di lapangan.
Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah masih adanya masyarakat yang menganggap BPJS Ketenagakerjaan sama dengan BPJS Kesehatan. Di sisi lain, masih ada perusahaan yang belum mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta.
“Ada gap yang cukup besar. Banyak faktornya, mulai dari kondisi geografis Kalimantan yang luas, tingkat edukasi masyarakat yang belum merata, hingga perusahaan yang belum mendaftarkan pekerjanya,” kata Ken saat kegiatan Media Gathering bertajuk Memperkuat Literasi Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Wilayah Kalimantan Utara di Tarakan, Selasa (3/3/2026).
Untuk menutup kesenjangan tersebut, BPJS Ketenagakerjaan wilayah Kalimantan mengintensifkan sosialisasi melalui berbagai platform digital seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Konten yang digunakan mayoritas berbentuk video edukasi yang diproduksi secara terpusat dan diseragamkan untuk digunakan seluruh kantor cabang.
Setiap bulan, kampanye digital itu juga diarahkan pada tema tertentu. Misalnya pada Februari difokuskan pada edukasi Jaminan Kematian (JKM), sementara pada Maret lebih menyoroti kewajiban perusahaan dalam membayar tunjangan hari raya serta iuran BPJS Ketenagakerjaan.
“Kampanye digital ini berjalan terus-menerus tanpa mengenal waktu. Tujuannya agar pesan bisa tersampaikan merata, masyarakat lebih paham, dan perusahaan terdorong untuk patuh,” ujarnya.
Selain memanfaatkan media sosial, BPJS Ketenagakerjaan juga tetap mengandalkan pendekatan langsung melalui kegiatan informal serta kerja sama dengan media massa. Cara ini dinilai efektif untuk menyampaikan informasi sekaligus memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat maupun perusahaan terkait manfaat program jaminan sosial ketenagakerjaan.
“Kami juga melakukan kegiatan informal sebagai cara menutup gap antara target dengan realisasi,” kata Ken.
Ia menegaskan, edukasi kepada perusahaan menjadi salah satu fokus penting, terutama agar seluruh pekerja didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.
“Misalnya menjelang Ramadan, kami mengingatkan kewajiban perusahaan membayar tunjangan hari raya sekaligus memastikan iuran BPJS Ketenagakerjaan tetap berjalan, agar karyawan menerima haknya tepat waktu,” jelasnya.
Ken menambahkan, strategi kampanye yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi lokal di wilayah Kalimantan. Faktor geografis yang luas, jarak antar daerah, hingga ketersediaan teknologi menjadi pertimbangan dalam penyusunan materi kampanye.
Karena itu, pihaknya berupaya membuat konten yang sederhana, mudah diakses, dan mudah dipahami oleh masyarakat di berbagai daerah.
“Melalui pendekatan ini, kami berharap masyarakat bisa merasakan manfaat langsung dari program BP,” pungkasnya. (zac)












