TARAKAN – Lonjakan volume sampah tak terhindarkan selama momen Idulfitri 1447 Hijriah di Kota Tarakan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat peningkatan signifikan hingga 25 persen dibandingkan hari normal, dengan total sampah menembus sekitar 130 ton per hari pada puncak Lebaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLH Tarakan, Yohanis Patongloan, mengungkapkan kenaikan mulai terlihat sejak H-1 Lebaran dan mencapai puncaknya pada hari pertama. Dalam kondisi normal, produksi sampah harian berada di kisaran 110 ton.
“Puncaknya pada 23 Maret, jumlahnya kurang lebih 130 ton dalam sehari,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Lonjakan ini dipicu tingginya aktivitas masyarakat selama Lebaran—mulai dari memasak dalam skala besar, konsumsi makanan meningkat, hingga penggunaan kemasan sekali pakai yang masif. Dampaknya, sejumlah titik di kota sempat dipenuhi tumpukan sampah, bahkan meluber hingga ke badan jalan.
Kawasan padat penduduk seperti Gunung Selatan menjadi salah satu titik terdampak. Meski begitu, DLH memastikan kondisi tersebut bersifat sementara.
“Petugas langsung kami kerahkan. Sekarang sebagian besar titik sudah kembali bersih dan terkendali,” katanya.
Yohanis menegaskan, mayoritas sampah di Tarakan masih didominasi limbah rumah tangga, disusul aktivitas usaha, perusahaan, hingga sisa material bongkaran bangunan. Namun, persoalan tidak berhenti pada tingginya volume semata.
Perilaku warga yang masih membuang sampah sembarangan turut memperparah kondisi. DLH menemukan praktik pembuangan sampah dari kendaraan, terutama sepeda motor, di lokasi-lokasi sepi yang minim pengawasan.
“Ini yang memicu munculnya titik-titik kumuh baru,” tegasnya.
Sebagai langkah penanganan, DLH meningkatkan intensitas pembersihan selama dan setelah Lebaran. Pemasangan banner larangan membuang sampah sembarangan juga dilakukan di sejumlah titik rawan.
Di sisi lain, upaya edukasi terus digencarkan agar masyarakat lebih disiplin dalam mengelola sampah, mulai dari membuang sesuai jadwal hingga membayar retribusi kebersihan.
“Kalau hanya mengandalkan petugas, tentu tidak cukup. Kuncinya tetap pada kesadaran masyarakat,” pungkasnya.












