TARAKAN – Keterbatasan bahan menjadi kendala sebagian besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tarakan dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu diakui Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih, Jackson Situmorang. Yayasan yang dipimpinnya menaungi SPPG di Kelurahan Juata Kerikil, Kecamatan Tarakan Utara yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat di 9 sekolah dari TK hingga SMA.
Keterbatasan bahan, menurut Jackson, terutama terhadap penggunaan kemasan yang banyak dibutuhkan di bulan Ramadan. Karena SPPG hanya menyediakan makanan kering. Untuk menyiasati kekurangan kemasan, SPPG terpaksa menggunakan plastik. Cara penyajian inilah yang dikeluhkan orang tua siswa hingga viral di media sosial.
“Yang disiapkan SPPG sebenarnya sudah sesuai. Hanya masalah bahan saja. Dari 22 unit dapur SPPG yang sudah beroperasi, masalah kemasan aja sebenarnya. Karena kemasan kurang, terpaksa menggunakan plastik,” ujar Jackson.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan bahan. Idealnya kemasan yang dibutuhkan ada goodie bag atau vakum. Akan tetapi bahan tersebut tidak ada di Tarakan.
Terkait menu kering yang disajikan selama Ramadan, Jackson menegaskan sudah sesuai standar gizi.
Ia mencontohkan, hasil pertanian sudah banyak dipakai SPPG untuk MBG. Sehingga petani merasa senang. Hanya untuk buah, mengalami keterbatasan. Karena itu yang sering disajikan hanya pisang. Sedangkan buah lainnya, jarang.
Selain bahan bakunya yang terbatas, harga juga menjadi pertimbangan untuk menyediakan buah yang bervariasi. Karena menyesuaikan dengan anggaran.













