TARAKAN – Keputusan tidak diperpanjangnya kontrak seorang petugas kebersihan di lingkungan Pemerintah Kota Tarakan memicu tanda tanya. Langkah tersebut muncul setelah yang bersangkutan dikenal vokal menyuarakan isu tunjangan hari raya (THR) dan kesejahteraan pekerja di media sosial.
Yohanes Sumardin, eks petugas kebersihan, mengaku kontraknya resmi berakhir per 1 April 2026 tanpa perpanjangan. Ia menyebut keputusan itu datang tiba-tiba, meski selama bekerja tidak pernah menerima teguran maupun penilaian buruk.
“Perusahaan bahkan datang langsung ke rumah. Mereka bilang sebenarnya ingin mempertahankan saya karena kinerja saya bagus, tidak ada keluhan, dan depo yang saya tangani bersih,” ungkapnya.
Namun di balik itu, Yohanes mengaku mendapat penjelasan bahwa ada rekomendasi dari pihak tertentu agar kontraknya tidak dilanjutkan. Ia pun menduga keputusan tersebut berkaitan dengan sikapnya yang sebelumnya aktif menyuarakan aspirasi pekerja di media sosial.
Isu yang disuarakan bukan tanpa alasan. Yohanes menyoroti hilangnya bonus tahunan yang selama ini rutin diterima petugas kebersihan, biasanya sekitar Rp1 juta per orang. Menurutnya, penghapusan tunjangan itu terasa berat, terutama menjelang hari raya.
“Saya bersuara karena kasihan teman-teman. Biasanya ada bonus tiap tahun, tapi kemarin tidak ada, padahal sudah mau Lebaran,” katanya.
Ia mengaku tidak sendiri. Banyak rekan kerja yang memiliki keresahan serupa, namun memilih diam karena tidak tahu harus menyampaikan ke mana. Yohanes kemudian mengambil inisiatif menjadi penyambung suara tersebut ke publik.
“Teman-teman sebenarnya ingin bersuara, tapi bingung. Jadi saya yang ambil langkah itu,” ujarnya.
Meski demikian, Yohanes menegaskan apa yang disampaikannya bukan bentuk serangan terhadap institusi tertentu, melainkan murni upaya memperjuangkan hak pekerja. Ia juga mengaku sebelumnya sempat diingatkan agar tidak menyuarakan persoalan tersebut di media sosial.
“Kalau memang saya salah, harusnya ada teguran. Tapi ini tidak ada, tiba-tiba kontrak tidak diperpanjang,” katanya.
Kini, ia harus menerima kenyataan kehilangan pekerjaan. Kendaraan operasional telah dikembalikan, dan sumber penghasilan untuk keluarganya pun terhenti.
“Sekarang saya sudah tidak bekerja lagi,” ucapnya singkat.
Di tengah kondisi tersebut, Yohanes berharap kejadian serupa tidak menimpa rekan-rekannya yang masih bekerja. Ia juga mengingatkan agar pekerja tidak takut menyuarakan haknya, meski risiko yang dihadapi tidak kecil.
“Mudah-mudahan cukup saya saja. Tapi saya tetap bilang ke teman-teman, jangan takut bersuara,” tutupnya.












