TARAKAN – Harga Batubara Acuan (HBA) catatkan penurunan di bulan November 2022. Yakni dari USD330,9 per ton menjadi USD308,2 per ton. Demikian dikonfirmasi Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Utara, Norman Raga melalui Kepala Seksi Konservasi dan Produksi, Zainal Arifin.
Berdasarkan rilis Kementerian ESDM, penurunan HBA di bulan ini berkaitan dengan kondisi pasokan gas di negara-negara Eropa. Dimana hal itu berpengaruh besar dalam menentukan fluktuasi besaran HBA.
“HBA bulan November 2022 tercatat mengalami penurunan sebesar USD22,77 per ton atau 7,39 persen dibandingkan bulan Oktober. Meningkatnya pasokan gas di Eropa membuat harga gas melandai, kondisi ini berdampak juga pada harga batubara yang ikut merosot,” terang Zainal, (09/11/2022).
Faktor lain yang turut mempengaruhi penurunan HBA adalah produksi batubara Tiongkok serta kondisi perekonomian di negara tersebut. Selain itu, peningkatan produksi batubara dan perlambatan ekonomi Tiongkok turut menjadi salah satu penyebab menurunnya harga batubara secara global.
“Kondisi ini sedikit banyak tentu mempengaruhi produksi batubara asal Kaltara. Tapi kami belum bisa sampaikan detailnya karena data langsung dirilis dari pusat,” jelasnya.
Ia memaparkan, pergerakan HBA sejak awal tahun 2022 sempat menyentuh nilai tertinggi pada bulan Oktober, dimana HBA terkerek hingga menyentuh level USD330,97 per ton. Faktor kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia – Ukraina yang menyebabkan fluktuasi harga gas Eropa menjadi faktor pengerek utama.
“Produksi batubara Tiongkok yang mengalami peningkatan, namun di sisi lain ada perlambatan perekonomiannya. Itu menjadi faktor lain menurunnya HBA bulan November,” paparnya.
Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.
HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.
Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).
Adapun, Zainal mengatakan pihaknya belum mengetahui informasi kuota produksi batu bara untuk Kaltara pada tahun 2023. Pemerintah pusat belum meneruskan hal tersebut ke pemerintah daerah.
“Mohon maaf, belum ada bocoran dari pemerintah pusat soal kuota produksi tahun depan dapat berapa,” ujar Zainal.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Trino Junaidi mengatakan, sektor pertambangan dan penggalian catatkan pertumbuhan 8 persen pada triwulan III secara year on year, atau jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Level pertumbuhan sektor ini menempati urutan ke empat di bawah sektor transportasi dan pergudangan.
“Fenomena yang terjadi di sektor pertambangan pada triwulan III 2022 adalah meningkatnya produksi batubara karena didorong adanya lonjakan permintaan batubara dari Tiongkok, India dan Korea Selatan serta negara-negara di Eropa. Ini disebabkan beberapa negara Eropa mengaktifkan kembali pembangkit listrik batubara guna antisipasi adanya krisis listrik saat itu,” kata Trino.
Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara, Tedy Arief Budiman mengatakan, harga batubara memang sangat mempengaruhi kinerja lapangan usaha pertambangan di Kaltara. Secara umum, fluktuasi harga batubara sangat dipengaruhi dinamika dunia global.
“Kinerja pertambangan pada triwulan II 2022 mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan harga batu bara di pasar global. Ini sebagai dampak dari meningkatnya kebutuhan energi dunia,” kata Tedy.
“Selain itu, berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina menyebabkan negara-negara Eropa menerapkan pelarangan pembelian gas alam dan batu bara dari Rusia dan mencari alternatif pasokan, antara lain berasal dari Kalimantan Utara untuk memenuhi kebutuhan energinya,” papar Teddy melanjutkan.
Sejalan dengan tingginya permintaan batu bara di pasar global, produksi batu bara Kaltara pada triwulan II 2022 mengalami peningkatan. Produksi batu bara tumbuh 36,71 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 18,94 persen.
“Selain disebabkan meningkatnya permintaan, pola historis dari siklus produksi menunjukkan bahwa kapasitas produksi batubara cenderung meningkat ketika memasuki pertengahan tahun. Ini sejalan dengan realisasi target tengah tahun sebelum dilakukannya revisi RKAB pada semester II,” pungkasnya.