TARAKAN – Melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) telah merehabilitasi lebih dari 6 ribu hektare lahan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada 2024, dari target 31.380 hektare.
Program M4CR merupakan upaya BRGM untuk mempercepat rehabilitasi mangrove melalui dukungan pembiayaan Bank Dunia.
Program ini sudah dicanangkan tahun 2022, namun mulai berjalan pada Maret 2024 dan memiliki target 75 ribu hektare hingga tahun 2027 yang tersebar di 4 provinsi prioritas. Yaitu Riau, Sumatera Utara (Sumut), Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kaltara.
Kickoff program M4CR dimulai di Kaltara pada Juni lalu, tepatnya di Desa Sengkong, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Di Kaltara sendiri, BRGM menargetkan sebanyak 31.380 hektare lahan menjadi sasaran rehabilitasi mangprove yang tersebar di 4 kabupaten dan kota dan 35 desa yang ada di Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, Bulungan dan Kota Tarakan.
Rinciannya di Kabupaten Bulungan ada 15.740 hektare, Kota Tarakan 243 hektare, Nunukan ada 5.949 hektare dan di Tana Tidung terdapat 9.449 hektare.
Target itu akan direalisasikan dalam dua tahun. Pada tahun pertama ini, ditargetkan sebanyak 6.543 hektare lahan tambak untuk ditanami mangrove dan target tersebut hampir terealiasi.
“Target tahun ini ada penanaman 6.543 hektare. Itu sudah hampir selesai,” ujar Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager M4CR BRGM Kaltara, Akhmad Ashar Sarif
“Kalau yang sudah dievaluasi kemarin sudah sesuai, bagus, tertanam dan sesuai dengan rancangan kegiatan. Harapannya semua nantinya juga sama,” lanjut Akhmad Ashar Sarif saat melakukan media briefing di Hotel Tarakan Plaza, Minggu (22/12/2024).
Dalam mengimplementasikan program ini, selain melibatkan instansi terkait seperti UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, dan akademisi, juga dilibatkan pemilik tambak yang tergabung dalam sejumlah kelompok tani.
Akhmad Ashar Sarif mengakui terdapat kendala dalam merealisasikan program ini. Di antaranya memberikan pemahaman kepada pemilik tambak pentingnya ekosistem mangrove dalam berusaha tambak.
“Kalau kendala sendiri kita paling besarnya ada di masyarakatnya, pemilik tambaknya yang kebanyakan bukan orang lokal. Kadang-kadang orangnya di Tarakan bahkan kadang di Sulawesi. Sehingga kita pertama sulit menemuinya. Kedua, ketika sudah ketemu, belum banyak petambak yang ngerti terkait mangprove dan mereka masih beranggapan bahwa tambak yang bagus itu adalah tambak yang terbuka,” Akhmad Ashar Sarif.
Meski demikian, dengan menerapkan program yang terencana dan terarah, perlahan namun pasti masyarakat mulai memahami pentingnya ekonistem mangrove dalam usaha tambak.
Akhmad Ashar Sarif menambahkan berdasarkan riset dari kademisi baik di dalam maupun di luar Kaltara, tambak yang ditanami tanaman mangrove bisa bertahan lebih lama daripada tambak yang terbuka, kualitas udang terjaga karena tidak mudah sakit dan kualitas air lebih baik sehingga cocok untuk budidaya udang dan ikan di tambak.
Secara global, hutan mangrove memiliki peran penting dalam mengantisipasi perubahan iklim. Karena kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer.
Ia juga menambahkan, selain kegiatan penanaman mangprove, melalui program ini pihaknya juga melakukan pengembangan mata pencaharian alternatif kepala kelompok usaha. Di mana pihaknya memberikan hibah kepada kelompok usaha untuk dapat mengembangkan usahanya lebih besar lagi.