Selasa, Februari 3, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
  • Disclaimer
  • TV Online
HeadlineKU
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini
No Result
View All Result
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini
No Result
View All Result
HeadlineKU
No Result
View All Result
Home Opini

Disiplin Humanis Menyikapi Fenomena LGBT di Kalangan Pelajar

Redaksi Headlineku by Redaksi Headlineku
11 Januari 2026
in Opini
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Bahar Mahmud, S.Pd., Gr

Fenomena LGBT di kalangan pelajar dan generasi muda dewasa ini semakin sering menjadi perbincangan di ruang publik. Sayangnya, perbincangan tersebut kerap terjebak pada dua kutub ekstrem: penerimaan tanpa batas atas nama kebebasan, dan penolakan keras atas nama moral dan agama. Di antara dua kutub ini, pendidikan sering kali kehilangan peran strategisnya sebagai ruang pembinaan yang menuntun, bukan menghakimi.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa “pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak”. Pendidikan bukanlah alat penghukuman, tetapi proses menuntun agar anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Maka dalam menyikapi fenomena LGBT di kalangan pelajar, pertanyaan yang lebih mendasar bukan sekadar benar atau salah, melainkan bagaimana negara dan dunia pendidikan hadir menyelamatkan pelajar dari kebingungan identitas dan krisis arah hidup.

Tidak sedikit pelajar yang terlibat dalam perilaku LGBT sejatinya sedang berada pada fase pencarian jati diri. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi, paparan media tanpa filter nilai, lemahnya keteladanan, serta minimnya pendampingan keluarga dan lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, pembiaran atas nama kebebasan justru berpotensi memperpanjang kebingungan, sementara kecaman berlebihan hanya melahirkan perlawanan dan keterasingan.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang tegas namun tetap manusiawi. Salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan adalah pendekatan disiplin humanis ala militer. Pendekatan ini tentu tidak dimaknai sebagai kekerasan fisik atau intimidasi, melainkan penanaman disiplin hidup, ketegasan nilai, keteraturan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter.

Militer modern tidak hanya membentuk kekuatan fisik, tetapi juga ketangguhan mental, loyalitas pada nilai, kepemimpinan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang kerap hilang pada pelajar yang mengalami krisis identitas. Dalam kerangka pendidikan, pendekatan disiplin humanis dapat menjadi ruang pembinaan untuk menata ulang pola pikir, membangun kepercayaan diri yang sehat, serta menumbuhkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan bahwa “pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan”. Artinya, pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Fenomena LGBT tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman, namun perubahan zaman tidak boleh menghilangkan nilai dasar kemanusiaan dan budaya bangsa.

Pendekatan disiplin humanis hanya akan efektif jika dijalankan tanpa stigma dan labelisasi. Pelajar tidak boleh dicap sebagai “menyimpang”, melainkan diposisikan sebagai anak yang sedang dibina dan dituntun. Ketegasan aturan harus berjalan seiring dengan pendampingan psikologis, dialog, dan keteladanan. Tanpa itu, pendekatan apa pun berisiko kehilangan ruh pendidikannya.

Sebagaimana pelajar yang terlibat tawuran tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama dengan pelajar berprestasi akademik, demikian pula pelajar yang mengalami kebingungan identitas tidak cukup ditangani dengan ceramah moral atau pembiaran atas nama toleransi. Beda persoalan, beda pendekatan.

Dalam konteks ini, kehadiran negara termasuk pelibatan unsur militer dalam batas tertentu harus dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap masa depan generasi muda. Bukan untuk mengkriminalisasi, melainkan untuk menegaskan bahwa pendidikan adalah urusan bersama. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Tanpa integrasi ketiganya, pendidikan akan kehilangan daya ubahnya.

Fenomena LGBT di kalangan pelajar sejatinya adalah cermin dari persoalan pendidikan karakter yang belum sepenuhnya tuntas. Maka solusinya pun tidak bisa parsial. Disiplin yang humanis, ketegasan yang beradab, serta pendidikan yang menuntun bukan menghakimi menjadi kunci utama.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan tetap sama: melahirkan manusia yang berakal, berkarakter, dan bermartabat. Jika pendekatan disiplin ala militer mampu mengubah pelajar “nakal” menjadi pelajar “berakal”, maka dengan desain yang tepat dan nilai kemanusiaan yang kuat, pendekatan serupa dapat menjadi ikhtiar pendidikan dalam menyikapi fenomena LGBT tanpa kebencian, tanpa kekerasan, dan tanpa kehilangan arah.

Previous Post

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Berharap LGBT Tidak Dinormalisasi

Next Post

Bekali Kemampuan Guru, Mafindo Kaltara Bersama PGRI Tarakan Laksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial

Redaksi Headlineku

Redaksi Headlineku

Next Post

Bekali Kemampuan Guru, Mafindo Kaltara Bersama PGRI Tarakan Laksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Ajak Orang Tua Sosialisasikan Dampak Penggunaan Gawai

25 Juli 2023

Akibat Kecanduan Narkoba, IRT Rela Disetubuhi Pengedar

17 November 2021

Pembangunan SUTET Masuk Tahap Konsultasi Publik

1 Agustus 2023

Niat Cari Rumput, Warga Kelurahan Karang Harapan Temukan Mayat Pria Di sungai

14 Juni 2021

Bantuan Listrik Gratis, Wujud Keadilan Energi di Kaltara

3782

Dapat Perahu Baru, Sanusi Siap Kembali Melaut

3554

Insentif Guru dan Tenaga Kependidikan Disalurkan Bulan Depan

3388

Pembangunan SUTET Masuk Tahap Konsultasi Publik

3381

Api Lalap Bagian Bawah Masjid As-Sholihin, Kerugian Capai Ratusan Juta

31 Januari 2026

Dishub Dinilai Pasif, Kerja Sama Ojol di Bandara dan Pelabuhan Kaltara Tersendat

29 Januari 2026

DPRD Kaget, Perjalanan Dinas Disdukcapil Tarakan Cuma Dua Kali Setahun

29 Januari 2026

Dalam Sebulan Turun Dua Kali, Petani Rumput Laut Pantai Amal Gigit Jari

27 Januari 2026

Recent News

Api Lalap Bagian Bawah Masjid As-Sholihin, Kerugian Capai Ratusan Juta

31 Januari 2026

Dishub Dinilai Pasif, Kerja Sama Ojol di Bandara dan Pelabuhan Kaltara Tersendat

29 Januari 2026

DPRD Kaget, Perjalanan Dinas Disdukcapil Tarakan Cuma Dua Kali Setahun

29 Januari 2026

Dalam Sebulan Turun Dua Kali, Petani Rumput Laut Pantai Amal Gigit Jari

27 Januari 2026
HeadlineKU

© 2024 - Headlineku.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
  • Disclaimer
  • TV Online

No Result
View All Result
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
    • Opini

© 2024 - Headlineku.com