TANJUNG SELOR – Perkembangan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) selama tiga bulan pertama 2026 menunjukkan pola yang fluktuatif. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat upaya pencegahan bersama, terutama menjelang musim kemarau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara, Andi Amriampa menyampaikan, total kejadian karhutla dari Januari hingga Maret tercatat sebanyak 43 kasus. Meski sempat menurun pada Februari, angka kejadian kembali meningkat pada Maret.
“Pada Januari tercatat 16 kejadian, kemudian menurun menjadi 10 kasus di Februari, sebelum kembali meningkat menjadi 17 kasus pada Maret. Ini menjadi sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran seiring perubahan cuaca,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Secara wilayah, Kota Tarakan mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 20 kasus, disusul Kabupaten Nunukan 16 kasus. Sementara itu, Bulungan mencatat 4 kasus, Tana Tidung 3 kasus, dan Malinau tidak terdapat kejadian dalam periode tersebut.
Menurut Amriampa, kondisi ini perlu disikapi dengan langkah antisipatif yang konsisten, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Berbagai upaya pencegahan terus dilakukan, seperti patroli terpadu, sosialisasi, dan peningkatan kesiapsiagaan di daerah rawan.
“Tren ini perlu kita waspadai bersama. Pencegahan menjadi kunci agar kejadian tidak meluas,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan, dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak membakar sampah di area terbuka, khususnya di kawasan rawan.
“Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, termasuk segera melaporkan jika menemukan titik api agar bisa cepat ditangani,” tambahnya.
Amriampa menegaskan, upaya pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Dengan kesadaran dan kepatuhan semua pihak, risiko kebakaran diharapkan dapat ditekan.
Data BPBD menunjukkan, pada Januari kasus tersebar di Nunukan dan Tarakan masing-masing 6 kejadian, serta Tana Tidung dan Bulungan masing-masing 2 kejadian. Februari menurun dengan Nunukan 5 kasus, Tarakan 3 kasus, serta Tana Tidung dan Bulungan masing-masing 1 kasus. Sementara pada Maret, Tarakan mencatat 11 kasus, Nunukan 5 kasus, dan Bulungan 1 kasus.













