TARAKAN – DPRD Kalimantan Utara mendorong adanya pendampingan psikologis terhadap mahasiswi asal Nunukan yang menjadi korban kekerasan di Makassar, Sulawesi Selatan. Selain proses hukum terhadap pelaku, pemulihan kondisi mental korban dinilai menjadi hal penting agar korban dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltara menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara yang langsung memberikan perhatian terhadap kasus tersebut. Pemerintah daerah disebut segera menemui korban di Makassar sekaligus berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk memastikan proses hukum berjalan maksimal.
“Saya sangat berterima kasih sama Gubernur Kaltara. Dengan kasus ini beliau langsung terbang ke Makassar, menemui korban, kemudian memberikan support secara psikologis. Selanjutnya beliau juga langsung ketemu Kapolda Sulawesi Selatan,” ujarnya kepada awak media, Minggu (17/5/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pelaku telah diamankan aparat kepolisian di Surabaya setelah sempat melarikan diri dari Makassar melalui jalur Lampung menuju Jawa Timur.
Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi perhatian serius karena dampak trauma terhadap korban tidak mudah dipulihkan dalam waktu singkat. Karena itu, DPRD Kaltara berencana berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) maupun Pemerintah Kabupaten Nunukan terkait kemungkinan bantuan pemulihan psikologis bagi korban.
“Untuk pemulihan trauma korban, kalau saya sebagai anggota DPRD tentu perlu. Mengembalikan kondisi semula itu sangat sulit karena traumatik. Kita nanti coba berdiskusi lagi dengan OPD. Mudah-mudahan ada sedikit sentuhan bantuan pengembalian psikologis dari Pemerintah Kabupaten Nunukan,” katanya.
Korban diketahui merupakan penerima beasiswa Pemerintah Provinsi Kaltara. Namun, karena masih ada kebutuhan biaya yang belum sepenuhnya terakomodasi, korban disebut mencoba mencari pekerjaan tambahan melalui media sosial di Makassar.
DPRD Kaltara juga mengingatkan masyarakat, khususnya mahasiswa rantau dan penerima beasiswa, agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan maupun informasi yang beredar di media sosial. Jika menemukan hal mencurigakan, mahasiswa diminta segera berkonsultasi dengan pihak kampus, pengelola asrama, keluarga, maupun aparat penegak hukum.
“Jangan mudah percaya dengan informasi di media sosial. Kalau ada yang mencurigakan segera konsultasi supaya tidak terjadi hal-hal yang merugikan,” tutupnya.












