TARAKAN – Bara batu bara di tebing dekat permukiman warga RT 63, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, menjadi ancaman serius setelah panas pembakaran mulai terasa hingga dinding rumah. Petugas pemadam kebakaran harus menggunakan teknik khusus untuk menjangkau bara di bagian dalam tumpukan batu bara agar api tidak merambat ke bangunan warga.
Penanganan tidak cukup dilakukan dengan penyemprotan air dari permukaan. Petugas membuat puluhan lubang menggunakan bor manual, menambahkan cairan pencuci piring ke dalam air, hingga melongsorkan material tanah untuk menutup area yang terbakar.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran (PMK) dan Penyelamatan Dinas Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriatnoko, mengatakan posisi bara yang berada di lereng sempit menyulitkan proses pemadaman. Jaraknya yang dekat dengan rumah warga juga membuat penanganan harus dilakukan dengan hati-hati.
“Kondisinya cukup berisiko karena titik api yang menganga berada di tebing miring dan jaraknya sangat dekat dengan dinding rumah warga. Bahkan, dinding rumah sudah terasa panas dan ada kusen yang terancam terbakar jika terlambat ditangani,” ujar Eko, Jumat (16/10).
Menurut Eko, kondisi medan menjadi kendala utama karena armada pemadam berukuran besar tidak dapat menjangkau titik bara secara langsung. Penanganan pun melibatkan personel Damkar dari Mako, Sektor Barat, Sektor Utara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Lokasi kejadian berada di lereng bukit yang sempit sehingga tidak bisa dijangkau oleh armada pemadam berukuran besar,” jelasnya.
Petugas kemudian membuat puluhan lubang dengan kedalaman sekitar 0,5 meter hingga 1,5 meter menggunakan bor manual milik DLH. Lubang tersebut menjadi jalur masuk air agar dapat menjangkau bagian dalam batu bara yang masih membara.
Eko menjelaskan, penyemprotan dari permukaan saja tidak cukup untuk memastikan bara di dalam tumpukan batu bara benar-benar padam. Karena itu, petugas juga membuat tanggul menggunakan dua karung berisi pasir di bagian bawah lereng untuk menahan aliran air agar tidak meluber ke permukiman.
“Air biasa tidak mampu meresap optimal ke dalam struktur batu bara yang padat,” ungkapnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, petugas menggunakan campuran air dan cairan pencuci piring berdasarkan rekomendasi analis. Penyemprotan dilakukan secara perlahan melalui selang sepanjang kurang lebih 120 meter atau setara lima gulung selang.
“Cairan tersebut membuat air lebih mudah meresap ke pori-pori batu bara. Kita spray perlahan sampai airnya mendidih di dalam lubang, lalu kita lakukan penembakan tekanan tinggi agar bara yang terbakar rontok,” terangnya.
Setelah itu, petugas melanjutkan penanganan dengan melongsorkan material tanah di lereng menggunakan nozzle bertekanan tinggi hingga menjadi lumpur. Material tersebut diarahkan untuk menutup area yang terbakar sehingga pasokan oksigen berkurang dan bara tidak kembali menyala.
Meski proses pemadaman telah dinyatakan selesai, petugas tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dari bagian dalam tumpukan batu bara. Pemeriksaan berkala dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat material yang terbakar berpotensi menyimpan panas meskipun api tidak lagi terlihat.
Eko mengingatkan warga agar segera melapor apabila kembali menemukan tanda-tanda pembakaran di lokasi tersebut. Asap tipis sekalipun tidak boleh diabaikan karena bisa menjadi indikasi masih adanya bara di dalam tumpukan batu bara.
“Warga sekitar juga diminta untuk segera melapor jika kembali mendapati kemunculan asap sekecil apa pun di area tersebut,” tegasnya.












