TARAKAN – Lonjakan harga cabai rawit yang tak kunjung mereda ditambah mahalnya tarif angkutan udara menjadi dua pemantik utama kenaikan inflasi di Kota Tarakan sepanjang Maret 2026, situasi yang kembali menegaskan rapuhnya kestabilan harga ketika konsumsi masyarakat meningkat tajam pada momentum hari besar keagamaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,63 persen, yang turut mendorong inflasi kalender sejak Januari hingga Maret mencapai 1,06 persen. Angka ini mencerminkan tekanan harga yang masih terkonsentrasi pada sektor pangan dan transportasi, dua komponen yang paling sensitif terhadap dinamika permintaan dan distribusi.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menegaskan bahwa cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,30 persen, disusul komoditas lain seperti daging ayam ras dan beras. Ia menilai lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan pola berulang yang selalu muncul saat Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
“Kenaikan cabai rawit ini memang cukup konsisten terjadi, apalagi bertepatan dengan momen Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Pola konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap cabai segar menjadi salah satu faktor pendorong utama,” ujarnya.
Di luar sektor pangan, tekanan juga datang dari tarif angkutan udara yang menyumbang inflasi sebesar 0,19 persen. Penyesuaian harga tiket yang mengikuti kenaikan harga avtur global membuat biaya perjalanan melonjak, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat selama musim mudik.
Meski tekanan inflasi cukup kuat, sejumlah komoditas justru mencatat penurunan harga dan menjadi penahan laju inflasi. Emas perhiasan, sawi hijau, serta tarif angkutan laut mengalami deflasi, memberikan sedikit ruang penyeimbang di tengah kenaikan harga yang lebih dominan.
BPS memperingatkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda dan berpotensi berlanjut pada April, terutama karena efek pasca-lebaran yang biasanya masih membekas pada harga-harga di pasar. Dalam kondisi ini, koordinasi antarinstansi dinilai krusial agar pengendalian inflasi tidak hanya reaktif, tetapi juga mampu mengantisipasi pola musiman yang terus berulang.
Dengan memantau 383 komoditas setiap bulan, BPS berharap data yang dihasilkan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih presisi bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Umar pun mengingatkan bahwa stabilitas harga tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga perilaku masyarakat dalam berbelanja.
“Kesadaran untuk tidak berbelanja secara berlebihan sangat membantu menjaga stabilitas harga di tingkat pedagang,” tegasnya.












