TARAKAN – Menjelang Hari Raya Iduladha, penjualan hewan kurban di Kota Tarakan mengalami peningkatan cukup signifikan. Kondisi itu dirasakan langsung para peternak lokal, salah satunya Suroto, peternak sapi di Kampung 6 Tarakan, yang mengaku seluruh sapi miliknya habis terjual lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tahun ini, tujuh ekor sapi milik Suroto ludes dibeli warga dengan harga bervariasi mulai Rp19 juta hingga Rp28 juta per ekor. Tingginya minat masyarakat disebut menjadi pertanda mulai pulihnya kepercayaan pembeli terhadap sapi lokal Tarakan.
Menurut Suroto, situasi saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu ketika pasar hewan kurban dibanjiri sapi kiriman dari Sulawesi. Saat itu, harga jual sapi lokal sempat terpuruk karena peternak harus bersaing dengan pasokan luar daerah dalam jumlah besar.
Kini, pasokan yang lebih terkendali membuat peternak lokal kembali mendapat ruang di pasar. Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya membawa keuntungan besar bagi peternak karena biaya modal ikut melonjak.
Harga bibit sapi yang sebelumnya relatif stabil kini mengalami kenaikan cukup tajam. Jika dulu peternak masih bisa mendapatkan bibit dengan harga lebih rendah, saat ini satu ekor bibit sapi disebut mencapai Rp16 juta. Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap margin keuntungan peternak.
“Seharusnya bisa dapat untung Rp5 juta, tapi sekarang paling dapat Rp3,5 juta. Harapannya pemerintah bisa mengendalikan harga sapi yang baru datang, jangan sampai kita yang tercekik,” ujar Suroto.
Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan stabilitas harga sapi dari luar daerah agar peternak lokal tetap mampu bertahan. Menurutnya, tanpa pengendalian yang jelas, peternak kecil akan semakin sulit bersaing karena biaya pemeliharaan dan pembelian bibit terus meningkat.
Untuk menjaga pelanggan tetap membeli sapi lokal, Suroto mengaku menerapkan strategi potongan harga bagi pembeli langganan. Langkah itu dilakukan agar seluruh sapi dapat terjual sebelum Hari Raya Iduladha tiba.
“Yang penting sapi habis terjual dan peternak lokal tetap bisa jalan,” tutupnya.













