TARAKAN – Persoalan drainase di Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, tak cukup diselesaikan dengan menggali atau memperdalam saluran. Tanpa jalur pembuangan yang tersambung hingga ke sungai, air tetap berpotensi menggenang meski saluran di sejumlah titik telah dibenahi.
Kondisi tersebut membuat penanganan drainase di kawasan itu harus direncanakan secara matang. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Tarakan perlu memastikan arah aliran air, perbedaan ketinggian tanah, hingga keamanan bangunan di sekitar saluran sebelum menentukan langkah pengerjaan.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Tarakan, Syahrun, mengatakan, persoalan utama bukan sekadar membuka saluran yang tersumbat, melainkan memastikan air memiliki jalur pembuangan yang jelas.
“Kalau kita bisa mengantisipasi ini, cuma paling ini dia bisa ke sana (arah berlawanan), tapi dia tidak bisa ke sini, percuma. Kita harus bisa ke sungai,” katanya, Jumat (16/10).
Menurut Syahrun, kondisi kontur tanah menjadi salah satu pertimbangan penting. Perbedaan elevasi dapat membuat air hanya mengalir ke bagian tertentu, sementara kawasan lain tetap tidak terjangkau saluran yang tersedia.
Karena itu, penanganan yang memungkinkan saat ini belum tentu mencakup seluruh kawasan. Aliran dari sejumlah lokasi usaha diperkirakan dapat terakomodasi, tetapi bagian lainnya masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Paling yang ter-cover cuma tempat usaha laundry (Jalan Cenderawasih) sama hotel ke sana (Jalan Gajah Mada),” bebernya.
Selain memastikan aliran air, DPUPR juga harus memperhitungkan dampak penggalian terhadap bangunan di sekitar drainase. Pekerjaan yang dilakukan terlalu dalam tanpa pemeriksaan kondisi fondasi berisiko menimbulkan persoalan baru.
“Kita perlu cek juga bangunan-bangunan ini. Jangan sampai fondasi mereka tergantung kalau kita menggali sampai dalam. Itu kita pikirkan juga, jangan sampai kita gali satu meter, fondasinya malah tergantung,” tegasnya.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari perencanaan teknis sebelum pekerjaan dilaksanakan. Dengan demikian, pembenahan saluran tidak hanya berorientasi pada kelancaran aliran air, tetapi juga memperhatikan keamanan bangunan di sepanjang jalur drainase.
DPUPR turut mempertimbangkan kondisi saluran di seberang jalan. Bagian tersebut akan diperiksa untuk menentukan kebutuhan penanganan berikutnya, termasuk kemungkinan pengerjaan dalam rencana jangka panjang.
Syahrun mengatakan, keputusan penanganan akan disesuaikan dengan kondisi saluran dan sebaran aliran air di lapangan. Pemeriksaan diperlukan agar pekerjaan dapat diarahkan pada titik yang benar-benar membutuhkan penanganan.
“Kemungkinan kita cek dulu. Untuk jangka panjangnya nanti kita lihat, karena sekarang airnya belum ada, yang ada itu di sini, yang banyak,” imbuhnya.












