TARAKAN – Empat pemuda-pemudi Kalimantan Utara (Kaltara) mengikuti Wirasena Youth Camp 2026, program bootcamp kepemimpinan berbasis karakter yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI. Keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk membawa isu pembangunan daerah perbatasan sekaligus memperkenalkan potensi kepemudaan Kaltara di tingkat nasional.
Empat peserta tersebut terdiri dari dua pemudi asal Kota Tarakan serta dua pemuda dari Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan. Mereka akan bergabung dengan perwakilan dari 38 provinsi lainnya dalam kegiatan yang berlangsung selama 10 hari.
Dispora Kaltara melakukan penjaringan peserta melalui tim seleksi bidang kepemudaan sebelum mengajukan nama-nama yang lolos ke Kemenpora. Tahapan seleksi kemudian dilanjutkan di tingkat kementerian.
Pengiriman peserta ini dilakukan di tengah keterbatasan anggaran daerah. Kendati tidak terakomodasi dalam APBD, Dispora Kaltara tetap berupaya mengirimkan perwakilan pemuda melalui proses seleksi tersebut.
“Terkait pembiayaan, semua anggaran itu dibiayai oleh Kemenpora, mulai dari tiket pesawat hingga akomodasinya semuanya selama 10 hari,” ungkapnya.
Sebelum keberangkatan, para peserta mendapat arahan agar memanfaatkan forum nasional tersebut untuk mengangkat persoalan yang dihadapi Kaltara. Isu kewirausahaan muda, tantangan pembangunan kawasan perbatasan, serta kondisi organisasi kepemudaan menjadi sejumlah hal yang dititipkan untuk disuarakan.
Menurutnya, posisi Kaltara sebagai daerah perbatasan memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri yang layak diperkenalkan kepada pemuda dari berbagai provinsi. Karena itu, peserta diharapkan tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga aktif menyampaikan gagasan dalam diskusi, seminar maupun perlombaan.
“Paling tidak ketika ada sesi diskusi, seminar, atau perlombaan, angkatlah topik permasalahan terkait dengan pembangunan di Kalimantan Utara. Khususnya saya pesan terkait dengan kepemudaan, bagaimana Kaltara berusaha terkait kewirausahaan muda serta tantangan perbatasan,” pesannya.
Selain isu pembangunan, peserta juga diingatkan mengenai pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh narkotika, radikalisme dan terorisme. Mereka turut diminta memperkenalkan kearifan lokal serta memahami dinamika organisasi kepemudaan, termasuk ketentuan batas usia 16 hingga 30 tahun.
Dukungan terhadap empat peserta juga diupayakan pemerintah provinsi melalui pemberian uang saku. Namun, besaran bantuan tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu persetujuan dalam APBD Perubahan.
Ia mengapresiasi Gubernur Kaltara yang melepas langsung para peserta. Kehadiran gubernur dinilai menjadi dukungan moril bagi pemuda-pemudi yang akan membawa nama daerah di tingkat nasional.
Para peserta pun diminta menjaga etika, integritas dan perilaku selama mengikuti kegiatan. Kesempatan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi pemuda lainnya di Kaltara untuk terus berkarya, menambah pengetahuan, serta berani mengambil peran dalam pembangunan daerah.
“Ini menjadi motivasi kepada pemuda-pemudi lain untuk terus berkarya dan menuntut ilmu. Namun, tetap jaga etika, integritas, dan attitude. Jangan coba-coba menyentuh barang haram seperti narkotika dan narkoba di daerah mana pun kalian berada,” tutupnya.












