TARAKAN – Tekanan harga pangan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi Kalimantan Utara (Kaltara) pada September 2026. Gangguan pasokan cabai rawit dari daerah penghasil serta kenaikan harga telur dan daging ayam ras membuat inflasi bulanan meningkat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Kaltara pada September sebesar 0,37 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Angka ini meningkat dibandingkan Agustus yang berada di level 0,23 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara Agus Taufik mengatakan, tekanan tersebut terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Komoditas cabai rawit memberikan andil inflasi terbesar hingga 0,30 persen,” kata Agus dalam keterangan tertulis KPw BI Kaltara, Kamis (8/10).
Selain cabai rawit, kenaikan harga telur ayam ras memberikan andil 0,04 persen. Kemudian daging ayam ras 0,02 persen, jagung manis 0,01 persen, dan cabai merah 0,01 persen.
Menurut Agus, kenaikan harga cabai rawit berkaitan dengan pasokan dari daerah penghasil yang mengalami gangguan akibat kemarau panjang.
“Lonjakan harga cabai rawit dipicu oleh seretnya pasokan dari daerah penghasil di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan yang dilanda kemarau panjang,” ujarnya.
Sementara komoditas unggas masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap pasokan dari luar Kaltara. Penyesuaian harga distributor turut memengaruhi harga di tingkat konsumen.
“Kenaikan harga komoditas unggas dipengaruhi penyesuaian harga distributor serta ketergantungan pasokan luar daerah seperti Sulawesi dan Berau,” terangnya.
Meski tekanan pangan meningkat, inflasi Kaltara secara tahunan masih berada dalam sasaran. Pada September, inflasi tahunan tercatat 2,56 persen.
“Angka ini masih sangat terjaga di dalam sasaran target inflasi nasional, yakni 2,5 plus minus 1 persen,” jelasnya.
Sejumlah komoditas juga menahan laju inflasi. Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi minimnya permintaan penerbangan karena tidak adanya momentum libur panjang.
“Minimnya momentum libur panjang menekan permintaan tiket penerbangan, meskipun harga avtur bertahan tinggi,” katanya.
Dari sisi pangan lokal, panen raya hortikultura turut membantu menahan kenaikan harga. Sawi hijau dan bayam masing-masing memberikan andil deflasi 0,02 persen, sedangkan kacang panjang 0,01 persen.
“Panen raya petani lokal untuk tanaman hortikultura seperti sawi hijau, bayam, dan kacang panjang turut melimpahkan pasokan sayuran segar di pasar tradisional sehingga harganya melandai,” ungkap Agus.
Ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltara masih mewaspadai sejumlah risiko yang dapat kembali menekan harga pangan. Pengendalian dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Risiko anomali cuaca, potensi karhutla, hingga tingginya permintaan pangan akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi,” ujarnya.
Untuk menjaga pasokan sekaligus keterjangkauan harga, TPID Kaltara telah melaksanakan 225 kegiatan pasar murah. Distribusi pangan juga diperkuat melalui Mini Distribution Center (MDC) Kios Tarakan Hibot.
“Guna menjaga kestabilan harga, TPID Kaltara telah menggelar 225 kegiatan pasar murah,” katanya.
Penguatan pasokan juga diarahkan pada produksi komoditas lokal, terutama cabai. Salah satu langkah yang dilakukan yakni penerapan teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas.
“Kami juga memfasilitasi distribusi pangan lewat Mini Distribution Center (MDC) Kios Tarakan Hibot. Kami menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), seperti teknologi irigasi tetes pada budidaya cabai,” pungkasnya.












