TARAKAN – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan pada Senin (5/10/2026) pagi. Kondisi tersebut membuat jarak pandang sempat turun hingga 1.500 meter sebelum berangsur membaik menjadi sekitar 2.000 meter.
Kepala BMKG Tarakan M. Sulam Khilmi mengatakan, kabut asap yang terpantau di Tarakan bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).
“Kalau dilihat dari pantauan sebaran asap pagi ini, asalnya dari Kalimantan Tengah dengan arah angin menuju Kalimantan Utara. Dampaknya terlihat di Tarakan, KTT, sebagian Bulungan hingga perairan Kalimantan Utara,” kata Sulam Khilmi.
Dia menyebut, hingga Senin pagi tidak ditemukan titik panas (hotspot) di wilayah Kaltara. Kondisi itu menjadi salah satu indikator bahwa asap yang masuk merupakan kiriman dari wilayah lain.
“Hotspot di Kaltara saat ini nihil. Jadi kecenderungannya asap berasal dari wilayah provinsi lain, yang masih banyak titik panasnya,” ujarnya.
Menurut Sulam, pergerakan asap tersebut terjadi karena adanya perubahan cakupan sebaran dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, sebaran asap masih berada di sekitar Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
“Beberapa hari sebelumnya langit Kaltara masih relatif bersih karena sebaran asap hanya berada di sekitar Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat,” jelasnya.
Namun, kondisi berubah pada Senin pagi ketika sebaran asap meluas hingga memasuki wilayah Kalimantan Timur dan Kaltara.
“Sekarang cakupan asapnya sudah meluas hingga sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,” lanjutnya.
Penurunan jarak pandang hingga 1.500 meter turut menjadi perhatian terhadap aktivitas penerbangan di Tarakan. Meski demikian, Sulam mengatakan keputusan mengenai operasional penerbangan tetap berada pada pihak terkait.
“Untuk operasional penerbangan tentu menjadi kewenangan AirNav dan maskapai. Masing-masing maskapai juga memiliki standar minimal jarak pandang,” katanya.
BMKG, lanjut dia, terus menyampaikan perkembangan kondisi jarak pandang kepada AirNav dan maskapai untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan operasional penerbangan.
“Kami terus menyampaikan perkembangan jarak pandang kepada AirNav dan maskapai,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan kualitas udara melalui sistem Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, indeks kualitas udara berada pada angka 73 atau kategori sedang.
“Kondisi kualitas udara saat ini masih berada pada kategori sedang,” kata Sulam.
Meski demikian, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan tetap diminta mengantisipasi paparan asap dengan menggunakan masker, khususnya ketika kondisi udara kembali memburuk.
“Kami tetap mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker,” pungkasnya.













