TARAKAN – Kebutuhan tenaga kesehatan menuntut calon pekerja memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. Tidak cukup hanya mengantongi ijazah, lulusan juga harus mampu menerapkan ilmu dan keterampilan secara profesional ketika menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan.
Direktur Politeknik Kaltara, Dr. Muhammad Aris, M.Kes., mengatakan pendidikan vokasi diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kompetensi dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, kemampuan alumni menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan.
“Untuk melihat bagaimana Politeknik Kaltara, lihatlah alumninya. Masyarakat itu tidak lagi bertanya tentang dari mana, tetapi yang akan dilihat adalah alumni Politeknik Kaltara itu bisa apa dan bisa melakukan apa,” ujarnya, Senin 12 Oktober 2026.

Menurut Aris, mahasiswa perlu dibekali kemampuan sesuai bidang keahlian agar dapat menjalankan pekerjaan secara optimal. Selain keterampilan teknis, kedisiplinan, etika, dan perilaku profesional juga menjadi bagian penting yang harus dimiliki ketika memasuki lingkungan kerja.
Ia menegaskan, pendidikan vokasi harus memberikan bekal yang dapat diterapkan langsung, bukan sekadar pengetahuan teoritis. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan instansi maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
“Dengan bekal ini, kami optimistis para lulusan mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan instansi maupun fasilitas pelayanan kesehatan yang membutuhkan tenaga sesuai kompetensi. Artinya, karena ini adalah pendidikan vokasi, maka mereka pada saatnya siap kerja. Bukan siap latih, tetapi siap kerja,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi D-III Keperawatan Politeknik Kaltara, Ns. Nur Sriyanti, S.Kep., M.Kep., menyampaikan bahwa peluang kerja bagi lulusan masih terbuka, terutama di sektor kesehatan. Pihak kampus menerima informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dari sejumlah pemangku kepentingan.
Bahkan, sebagian lulusan Farmasi disebut telah mendapatkan pekerjaan setelah dinyatakan lulus uji kompetensi, meskipun belum menerima ijazah. Hal ini menjadi salah satu gambaran bahwa kompetensi yang dimiliki lulusan dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja.
“Pada tahun ini, Politeknik Kaltara menyiapkan 106 lulusan dari tiga program studi, yakni 65 mahasiswa D-III Keperawatan, 39 mahasiswa Farmasi, dan dua mahasiswa Promosi Kesehatan (Promkes),” terangnya.

Ia berharap para lulusan mampu menunjukkan kualitas melalui keterampilan dan sikap profesional ketika bekerja. Sementara itu, Sriyanti mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan almamater meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan.
“Secara resmi mereka sudah selesai, tetapi ikatan hati tetap terjaga agar mereka punya kepedulian dan tanggung jawab untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan Politeknik Kaltara ke depan,” tuturnya.












