TARAKAN – Selembar bendera yang berkibar di tengah jalan berlumpur Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), tidak seharusnya hanya dibaca sebagai persoalan simbol. Ketua Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Kota Tarakan Yonsep justru melihat peristiwa pengibaran Bendera Dayak Borneo bersamaan dengan Merah Putih itu sebagai sinyal adanya suara masyarakat perbatasan yang selama ini perlu lebih serius didengar pemerintah.
Yonsep mengatakan, masyarakat di wilayah perbatasan memiliki persoalan yang jauh lebih konkret daripada sekadar perdebatan mengenai bendera. Jalan yang sulit dilalui, kebutuhan pembangunan yang belum sepenuhnya terjawab hingga harapan terhadap pemekaran wilayah merupakan bagian dari aspirasi yang disampaikan masyarakat dalam momentum tersebut.
“Jangan dilihat dari ideologinya saja, tetapi bagaimana masyarakat itu menerima kue-kue pembangunan. Mungkin itu yang paling utama. Kesejahteraan, kemudian bagaimana kebutuhan daerah itu bisa dipenuhi,” kata Yonsep, Rabu (19/8).
Menurutnya, ekspresi masyarakat harus ditempatkan dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari. Ketika pembangunan dan akses belum sepenuhnya dirasakan, munculnya kekecewaan merupakan sesuatu yang perlu dipahami sebelum pemerintah menentukan respons.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang disuarakan masyarakat Krayan, mulai dari percepatan pembangunan Jalan Nasional Malinau-Krayan, peningkatan kualitas Jalan Lingkar Krayan hingga kepastian proses pengusulan Krayan sebagai calon daerah otonomi baru (DOB).
Bagi Yonsep, persoalan jalan menjadi gambaran paling mudah untuk melihat bagaimana masyarakat perbatasan berhadapan dengan keterbatasan. Namun, ia menegaskan akses yang dibutuhkan masyarakat tidak berhenti pada infrastruktur.
“Kebutuhan daerah itu yang paling utama adalah akses mereka. Akses itu bukan hanya akses jalan, tapi akses untuk mengeluarkan pendapat. Nah, itu yang paling utama saya lihat,” ujarnya.
Karena itu, Yonsep meminta pemerintah tidak terburu-buru memberikan label terhadap aksi pengibaran Bendera Dayak Borneo tersebut. Ia menilai ekspresi masyarakat harus terlebih dahulu dipahami berdasarkan fakta dan latar belakang yang terjadi di lapangan.
“Kalau bersifat makar, saya tidak setuju lah dengan itu. Tetapi untuk hal-hal yang sifatnya ekspresi masyarakat yang tidak puas berdasarkan mereka, dan itu reaktif serta tidak melakukan tindakan yang melukai, baik secara ideologi maupun undang-undang, saya rasa itu wajar saja,” tuturnya.
Yonsep mengaku belum mengetahui secara pasti siapa saja yang berada di balik pengibaran bendera tersebut. Informasi yang diterimanya baru sebatas laporan mengenai kejadian, sementara komunikasi langsung dengan masyarakat di Krayan belum dilakukan.
Ia juga belum mengetahui apakah pengibaran tersebut telah dikoordinasikan dengan organisasi masyarakat adat. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah untuk mengetahui terlebih dahulu maksud dan tujuan masyarakat sebelum memberikan penilaian lebih jauh.
“Kalau yang ini reaktif dan spontanitas mereka sendiri sebagai anak bangsa, ya harus kita hormati dan hargai. Dan itu perlu ada pembinaan, perlu dilihat apa sih yang mau mereka dengan mengibarkan itu atau berniat mengibarkan itu. Itu yang perlu dicermati,” katanya.
Ia menilai pemerintah memiliki kesempatan untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai pintu masuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat perbatasan. Aspirasi mengenai pembangunan, kesejahteraan dan pemekaran wilayah sebaiknya tidak tenggelam hanya karena perhatian publik tertuju pada simbol bendera.
“Semoga reaksi tadi tidak dilihat merupakan bagian ketidaksukaan terhadap negara. Negara ini kan negara hukum. Jadi bagaimana melihat apa yang dibutuhkan masyarakat kita itu. Jangan sampai karena sesuatu yang reaktif, kemudian kita langsung melihatnya sebagai sesuatu yang lain,” jelasnya.
PDL Kota Tarakan, lanjut Yonsep, masih akan melihat perkembangan dan informasi lebih lengkap mengenai peristiwa tersebut. Menurutnya, langkah selanjutnya baru dapat ditentukan setelah diketahui siapa saja pihak yang terlibat serta apa yang sebenarnya ingin disampaikan melalui aksi tersebut.
“Kalau tadi malam saya dilaporkan, tetapi belum ada komunikasi kami kepada siapa. Soalnya perlu melihat siapa yang di lapangan. Ini kan anak-anak muda di sana, jadi kita perlu tahu dulu siapa dan bagaimana kejadiannya. Setelah itu baru bisa melihat langkah yang tepat,” pungkasnya.













