TARAKAN – Perputaran uang tunai di Kalimantan Utara sepanjang awal 2026 menunjukkan geliat ekonomi yang terus bergerak agresif. Hingga akhir April 2026, aliran uang keluar atau net outflow di wilayah ini tercatat mencapai Rp800,4 miliar. Besarnya angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas transaksi masyarakat, mulai dari kawasan perkotaan hingga wilayah perbatasan dan pulau terluar yang masih sangat bergantung pada peredaran uang kartal.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa penggunaan uang tunai masih menjadi tulang punggung transaksi harian masyarakat Kaltara. Di tengah pertumbuhan sistem pembayaran digital, kebutuhan terhadap uang fisik tetap tinggi, terutama untuk aktivitas perdagangan tradisional, distribusi logistik, hingga transaksi di daerah dengan akses layanan keuangan yang terbatas.
Menyikapi tingginya kebutuhan tersebut, Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Kalimantan Utara memastikan ketersediaan uang layak edar tetap aman di seluruh kabupaten dan kota. Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas transaksi masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan lancar.
Salah satu upaya yang terus diperkuat yakni pelaksanaan program Ekspedisi Rupiah Berdaulat. Melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Laut, distribusi uang tunai dilakukan secara rutin ke wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar di Kaltara yang sulit dijangkau jalur distribusi biasa. Program tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan masyarakat di wilayah terdepan tetap memperoleh akses terhadap rupiah dalam kondisi layak edar.
Selain menjaga pasokan uang tunai, BI juga menghadapi tantangan lain di kawasan perbatasan, khususnya di Kabupaten Nunukan. Di sejumlah wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, penggunaan Ringgit masih ditemukan dalam aktivitas perdagangan sehari-hari. Fenomena itu terjadi karena hubungan ekonomi lintas negara yang telah berlangsung lama dan intens.
Meski demikian, otoritas moneter terus mendorong penguatan penggunaan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran sah di wilayah Indonesia. Edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha terus dilakukan secara bertahap untuk memperkuat kedaulatan mata uang nasional di kawasan perbatasan.
Di sisi lain, transformasi sistem pembayaran digital di Kaltara juga berkembang pesat. Penggunaan QRIS terus menunjukkan peningkatan signifikan dengan total nilai transaksi pada tahun sebelumnya mencapai Rp2,4 triliun. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai semakin adaptif terhadap pola transaksi nontunai yang dinilai lebih praktis dan efisien.
Perkembangan itu menunjukkan Kaltara kini bergerak dalam dua arus ekonomi sekaligus. Di satu sisi, uang tunai masih menjadi kebutuhan utama masyarakat, terutama di wilayah pelosok dan sektor informal. Namun di sisi lain, digitalisasi pembayaran terus tumbuh cepat seiring meningkatnya literasi teknologi dan akses layanan keuangan.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga keseimbangan kedua ekosistem tersebut agar pertumbuhan ekonomi daerah dapat berlangsung inklusif, efisien, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kalimantan Utara.













