TARAKAN – Harga udang windu di Kota Tarakan terpantau stabil dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut memberi kepastian bagi petambak setelah sempat mengalami penurunan harga yang cukup merugikan. Namun, di tengah harga jual yang tidak berubah, biaya produksi justru terus meningkat sehingga margin keuntungan petambak semakin menipis.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara, mengatakan harga udang windu saat ini relatif bertahan pada berbagai ukuran.
“Untuk harga udang size 20 itu di angka Rp256.000 per kilogram, kemudian size 25 Rp200.000 per kilogram, size 30 Rp177.000, dan size 35 Rp157.000. Sudah beberapa bulan stabil. Sebelumnya di bawah Rp200 ribu, sangat merugikan,” ujar Husna kepada awak media, Rabu (10/6/2026).
Meski demikian, kestabilan harga tersebut belum sepenuhnya memberikan keuntungan yang besar bagi petambak. Kenaikan biaya produksi terjadi hampir pada seluruh komponen, mulai dari benih hingga kebutuhan penunjang budidaya.
“Naik semua, dari bibit naik kemudian obat-obatan seperti saponin juga naik. Sekarang kami sarankan mereka menggunakan bahan yang organik karena yang ramah lingkungan memang yang organik,” katanya.
Menurut Husna, penggunaan bahan organik tidak hanya membantu menjaga kualitas lingkungan tambak, tetapi juga dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan keberlanjutan usaha budidaya udang windu.
Di sisi lain, permintaan pasar internasional terhadap udang windu asal Tarakan masih cukup tinggi. Produk tersebut masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor dengan Jepang sebagai tujuan utama.
Sekitar 70 persen ekspor udang beku dari Tarakan dikirim ke Jepang. Sementara sisanya dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa, Amerika Serikat, China, Hongkong, Taiwan, serta beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia.
“Kalau untuk udang beku, kebanyakan ke Jepang, kemudian ke Eropa, Amerika, dan sebagian Asia. Ada juga ke Hongkong dan Taiwan, tetapi volumenya tidak terlalu besar,” jelas Husna.
Ia menambahkan, Jepang memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding negara tujuan lainnya. Sebagian udang windu yang masuk ke negara tersebut dikonsumsi oleh masyarakat setempat, sementara sebagian lainnya kembali diekspor ke pasar Amerika dan Eropa.
“Mereka tidak semuanya untuk konsumsi di Jepang. Sebagian dikonsumsi di sana, sebagian lagi mereka ekspor kembali ke Amerika dan Eropa,” ungkapnya.













