TARAKAN – UPT Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 29 sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA) di Indonesia. Penetapan tersebut menjadikan SKB Tarakan sebagai satu-satunya satuan pendidikan nonformal di Kalimantan Utara yang dipercaya menjadi percontohan penerapan konsep pembelajaran baru yang dikembangkan pemerintah.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Abdul Razaq, mengatakan terpilihnya SKB Tarakan sebagai sekolah model nasional tidak terlepas dari kapasitas lembaga tersebut dalam menyelenggarakan pendidikan kesetaraan. Jumlah warga belajar yang cukup besar juga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah pusat.
“Di Indonesia ada sekitar 29 satuan pendidikan nonformal yang ditetapkan sebagai sekolah model. Alhamdulillah, untuk Kalimantan Utara salah satunya adalah SKB Kota Tarakan,” ujarnya, Senin (15/6).
Saat ini, SKB Tarakan membina sekitar 380 warga belajar yang mengikuti Program Paket A, Paket B, dan Paket C. Menurutnya, keberadaan peserta didik yang cukup banyak menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan nonformal di Kota Tarakan.
“Jumlah warga belajar kami cukup banyak. Sekitar 380 warga belajar mengikuti program Paket A, Paket B, dan Paket C,” katanya.
Dengan status sebagai sekolah model, SKB Tarakan diharapkan mampu menjadi rujukan bagi satuan pendidikan nonformal lainnya, terutama di wilayah Kalimantan, dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Harapannya SKB Tarakan bisa menjadi percontohan dan menjadi referensi bagi lembaga pendidikan nonformal lainnya dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, menjelaskan sekolah model yang dimaksud berfokus pada implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial. Program tersebut tidak hanya menitikberatkan pada penggunaan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas proses belajar mengajar secara menyeluruh.
“Sekolah model ini adalah implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial. Fokusnya bagaimana satuan pendidikan mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan menjadi contoh bagi lembaga lain,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam pengembangan sekolah model, yakni peningkatan kualitas belajar peserta didik, penguatan kualitas mengajar pendidik, serta kepemimpinan di lingkungan satuan pendidikan. Karena itu, berbagai pembenahan mulai dilakukan agar implementasi program dapat berjalan optimal.
Salah satu langkah awal yang ditempuh ialah menyelaraskan visi dan misi lembaga dengan arah kebijakan sekolah model. Program pembelajaran yang selama ini berjalan juga akan dievaluasi agar lebih berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Selain aspek akademik, dukungan sarana dan prasarana juga menjadi perhatian. Meski terdapat bantuan dari pemerintah untuk mendukung pelaksanaan program, pengembangan fasilitas masih terkendala keterbatasan lahan yang dimiliki SKB Tarakan.
“Sebenarnya ada program revitalisasi yang mencakup perbaikan maupun penambahan bangunan. Namun lahan yang kami miliki masih terbatas sehingga pengembangan fasilitas belum bisa dilakukan secara maksimal,” ungkapnya.
Ke depan, pihaknya berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk memperkuat fasilitas pendidikan melalui revitalisasi bangunan maupun penyediaan lokasi baru yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ruang belajar.
“Harapan kami ke depan SKB memiliki fasilitas yang lebih representatif. Jika memungkinkan, ada dukungan lahan atau lokasi lain yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ruang belajar sehingga pelayanan kepada warga belajar dapat semakin optimal,” pungkasnya.













