TARAKAN – Potensi hasil perikanan Kalimantan Utara dinilai masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional. Beragam produk olahan berbahan baku hasil laut dan tambak telah mampu menembus pasar luar negeri, namun pelaku usaha masih menghadapi kendala panjangnya rantai distribusi sehingga nilai jual produk belum optimal.
Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Utara, Hj. Rahmawati Zainal, S.H., saat mengunjungi CV Globalindo Sea milik Supriadi dalam agenda reses di Tarakan. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung berbagai produk olahan yang diproduksi, mulai dari udang rebon, udang kering atau ebi, kerang darah, kapah, hingga daging kepiting hasil budidaya tambak.
Menurut Rahmawati, sudah saatnya produk perikanan asal Kalimantan Utara memiliki akses ekspor langsung ke negara tujuan, khususnya kawasan Timur Tengah, tanpa harus melalui negara transit.
“Bagaimana kita memfasilitasi dan mendukung agar produk Kaltara bisa langsung diekspor ke negara tujuan, termasuk Timur Tengah. Dengan begitu prosesnya lebih sederhana dan nilai jual produk bisa lebih meningkat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini sebagian komoditas perikanan dari Kalimantan Utara masih dikirim terlebih dahulu ke Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum diteruskan ke negara tujuan. Kondisi tersebut membuat harga produk ikut ditentukan oleh mekanisme perdagangan di negara transit.
“Selama ini produk dikirim sampai Kuala Lumpur. Dari sana baru diteruskan ke negara tujuan, sehingga harga ikut ditentukan di sana. Kalau bisa langsung, pelaku usaha akan memiliki nilai tawar yang lebih baik,” katanya.
Rahmawati menilai pembukaan jalur ekspor langsung harus didukung dengan penguatan konektivitas transportasi. Selain jalur laut, menurutnya pengiriman melalui jalur udara juga dapat menjadi alternatif untuk mempercepat distribusi produk perikanan.
“Kalau akses udara untuk ekspor bisa dibuka, produk-produk unggulan Kaltara bisa lebih cepat sampai ke negara tujuan. Ini akan memangkas rantai distribusi dan membantu meningkatkan daya saing pelaku usaha,” tuturnya.
Anggota Komisi VII DPR RI tersebut menambahkan, pengembangan ekspor juga harus diiringi peningkatan nilai tambah produk. Pengolahan hasil laut menjadi produk siap pasar dinilai mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan.
“Jadi tidak ada yang terbuang. Hasil yang ada bisa diolah dan dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.
Sementara itu, pemilik CV Globalindo Sea, Supriadi, mengatakan perusahaannya mengolah berbagai komoditas hasil laut dan tambak menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya daging kepiting hasil budidaya tambak yang saat ini telah dipasarkan hingga Malaysia.
“Daging kepiting ini dari tambak, kemudian kami proses, direbus, setelah itu diekspor ke Malaysia,” jelasnya.
Ia menerangkan keberadaan kepiting di tambak juga perlu dikendalikan karena dapat mengganggu pertumbuhan udang. Oleh sebab itu, hasil tangkapan tersebut kemudian diolah menjadi produk ekspor.
Selain daging kepiting, pihaknya juga memproduksi udang rebon, udang kering atau ebi, kerang darah, dan kapah. Berbagai komoditas tersebut diolah untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal.
“Produk kami beragam, ada udang rebon, kerang darah, kapah, termasuk daging kepiting. Semua kami olah agar hasil perikanan ini punya nilai lebih,” katanya.
Supriadi berharap produk olahan perikanan asal Tarakan semakin dikenal di pasar internasional sekaligus membawa nama Kalimantan Utara sebagai daerah penghasil produk perikanan berkualitas.
“Harapannya produk dari sini bisa membawa nama Kaltara dan dikenal di luar negeri,” pungkasnya.













