TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring mulai masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah. Pemantauan titik panas dilakukan secara intensif melalui teknologi satelit, disertai penguatan koordinasi hingga tingkat desa guna mencegah kebakaran meluas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltara, Rony Haryanto, mengatakan karakteristik karhutla di Kalimantan Utara berbeda dengan sejumlah daerah lain di Indonesia yang kerap menghadapi kebakaran berskala besar. Namun demikian, pemantauan tetap dilakukan secara ketat terhadap setiap laporan maupun titik panas yang terdeteksi.
“Persoalan karhutla di Kaltara berbeda dengan daerah lain. Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan laporan yang masuk dari kabupaten maupun kota,” ujarnya.
Menurut Rony, BPBD memanfaatkan aplikasi pemantauan berbasis satelit untuk mendeteksi kemunculan titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran. Hasil analisis sementara menunjukkan sebagian besar titik panas yang muncul berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan masyarakat untuk pertanian maupun perkebunan dengan luasan yang relatif kecil.
“Secara analisa, banyak aktivitas pembukaan lahan untuk kebun atau pertanian, biasanya tidak lebih dari dua hektare. Namun tetap kami lakukan pengecekan lebih lanjut,” katanya.
Ia menjelaskan, data satelit tidak selalu menggambarkan kejadian kebakaran secara langsung karena terdapat jeda waktu sekitar enam hingga 12 jam sebelum informasi tersebut muncul dalam sistem pemantauan. Karena itu, verifikasi lapangan tetap menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Selain aktivitas pembukaan lahan, anomali panas juga dapat dipengaruhi faktor geografis tertentu. Beberapa wilayah yang memiliki kandungan batu bara misalnya, dapat memunculkan indikasi panas yang terbaca satelit meski bukan berasal dari kebakaran hutan maupun lahan.
“Ada juga wilayah tertentu yang memiliki kandungan batu bara sehingga dapat menimbulkan anomali panas. Karena itu setiap titik panas harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum disimpulkan sebagai kejadian karhutla,” jelasnya.
BPBD mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan pembukaan lahan menjelang musim tanam. Aktivitas tersebut diperbolehkan sesuai ketentuan yang berlaku, namun harus dilakukan dengan pengawasan dan langkah pengamanan yang memadai agar api tidak merembet ke area lain.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD menggencarkan sosialisasi melalui radio, media massa, dan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Pemerintah desa, kecamatan, Dinas Kehutanan, hingga Dinas Pertanian dilibatkan dalam pengawasan aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan masyarakat.
“Kami minta masyarakat berkoordinasi dengan kepala desa apabila melakukan pembukaan lahan. Harus ada pengawasan dan sekat pengamanan agar api tidak meluas,” tegasnya.
Di sisi lain, kesiapsiagaan personel dan sarana pendukung penanggulangan bencana juga terus diperkuat. Sejak April 2026, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kaltara telah beroperasi penuh untuk memantau berbagai potensi bencana yang terjadi di wilayah Kalimantan Utara.
BPBD juga melakukan pemeliharaan rutin terhadap peralatan dan armada operasional guna memastikan seluruh sarana siap digunakan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam penanganan keadaan darurat. Beberapa armada yang mendapat perawatan di antaranya satu unit Speed Sea Reader dan satu unit Mobil Ford Rescue.
“Kami bersama Dinas Kehutanan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat. Jika membuka lahan, harus dijaga dengan baik dan jangan sampai api menyebar,” pungkasnya.













