TARAKAN – Suasana tenang di kawasan Pantai Amal mendadak berubah menjadi kepanikan, Senin (8/6). Ratusan warga berhamburan keluar rumah dan memenuhi jalan-jalan lingkungan setelah beredar informasi mengenai potensi tsunami yang belum diketahui kebenaran maupun sumbernya.
Kepanikan berlangsung dalam waktu singkat. Warga yang mendengar kabar tersebut langsung berupaya mencari lokasi yang dianggap lebih aman. Sebagian memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, sementara lainnya berkumpul di pinggir jalan untuk mencari informasi mengenai situasi yang sebenarnya.
Lurah Pantai Amal, Deden Haliin, mengatakan dirinya sedang berada di kantor kelurahan saat kepanikan mulai terjadi. Saat itu, kelurahan tengah melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan kepada masyarakat.
“Waktu itu saya sedang memantau kegiatan pembagian bantuan di kantor kelurahan. Tiba-tiba ada warga yang berlari sambil berteriak tsunami. Informasi itu kemudian menyebar cepat kepada warga yang sedang berkumpul dan diteruskan ke keluarga mereka di rumah. Akhirnya terjadi kepanikan dan banyak warga keluar rumah,” ujarnya.
Menurut Deden, cepatnya penyebaran informasi membuat banyak warga bereaksi tanpa sempat melakukan verifikasi. Kondisi tersebut diperparah dengan situasi psikologis masyarakat yang sebelumnya telah menerima informasi mengenai potensi tsunami akibat gempa yang terjadi di wilayah lain.
Akibatnya, warga yang melihat orang lain berlarian ikut meninggalkan rumah meski belum mengetahui secara pasti sumber informasi yang beredar.
“Karena melihat ada yang lari, akhirnya yang lain ikut lari juga. Itu yang membuat suasana menjadi ramai di jalan-jalan, terutama di kawasan Baisel dan beberapa titik di Pantai Amal,” katanya.
Mengetahui situasi tersebut, pihak kelurahan bersama unsur TNI dan kepolisian langsung bergerak ke lapangan. Aparat melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk menenangkan situasi sekaligus memberikan penjelasan terkait informasi resmi yang telah dikeluarkan pemerintah.
“Saya langsung mengimbau warga untuk kembali ke rumah masing-masing dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya,” tegas Deden.
Di tengah kepanikan yang terjadi, beredar pula informasi mengenai perubahan kondisi air laut di kawasan pesisir. Sejumlah warga mengaku melihat air laut sempat surut sebelum kembali naik.
Namun setelah dilakukan pengecekan langsung di lapangan, kondisi tersebut dinilai masih berada dalam batas normal dan tidak menunjukkan indikasi gelombang tsunami.
“Saya sempat mengecek langsung. Memang ada informasi dari warga bahwa air sempat surut, kemudian kembali naik. Sekarang kondisinya sudah mulai normal dan berangsur surut sesuai kondisi pasang surut yang biasa terjadi,” jelasnya.
Untuk menghindari kepanikan yang lebih luas, pemerintah kelurahan kemudian berkoordinasi dengan aparat keamanan, pengurus RT, tokoh masyarakat, hingga pengelola rumah ibadah guna menyampaikan informasi yang benar kepada warga. Penyampaian dilakukan melalui pengeras suara masjid maupun grup komunikasi masyarakat yang selama ini digunakan untuk penyebaran informasi lingkungan.
Deden menegaskan bahwa masyarakat harus mengutamakan informasi yang berasal dari pemerintah maupun BMKG sebagai lembaga resmi yang berwenang memberikan peringatan dini terkait potensi bencana.
“Kami terus memberikan pemahaman kepada warga agar tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum tentu benar. Semua informasi harus mengacu pada rilis resmi pemerintah dan BMKG,” pungkasnya.
Setelah penjelasan diberikan secara langsung oleh aparat dan pemerintah setempat, situasi di Pantai Amal berangsur normal. Warga yang sebelumnya berkumpul di sejumlah titik mulai kembali ke rumah masing-masing dan aktivitas masyarakat perlahan kembali berjalan seperti biasa.













