TARAKAN – Sebanyak 80 siswa yang menjadi angkatan pertama Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi tahap awal dalam memetakan karakter, kemampuan belajar, serta potensi masing-masing peserta didik.
Rangkaian kegiatan MPLS dilaksanakan selama satu pekan. Setelah itu, siswa akan mengikuti tahapan pra-studi selama tiga pekan yang dirancang untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan pola pembelajaran di SNT 11 Tarakan.
Kepala SNT 11 Tarakan, Friny Napasti, menjelaskan bahwa MPLS menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran secara penuh.
“Anak-anak mulai mempersiapkan diri untuk masuk dalam proses pembelajaran. Mereka dikenalkan dengan warga sekolah, lingkungan sekolah, sekaligus mengikuti berbagai kegiatan pembiasaan,” kata Friny, Senin (10/8).
Menurutnya, kegiatan pembiasaan yang diberikan antara lain program Anak Indonesia Hebat dan Pagi Ceria. Rangkaian tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan positif sekaligus membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.
“Jadi mereka benar-benar dipersiapkan supaya nantinya bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik,” ujarnya.
Berbeda dengan MPLS pada sekolah reguler, SNT 11 Tarakan memberikan tahapan lanjutan berupa pra-studi. Program tersebut menjadi masa transisi bagi siswa sebelum memasuki pembelajaran yang lebih terstruktur.
“Yang berbeda dengan MPLS di sekolah reguler, kami akan melanjutkan dengan kegiatan pra-studi. Ini merupakan kegiatan untuk mempersiapkan anak-anak agar siap belajar,” jelasnya.
Dalam pra-studi, pendampingan tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Siswa juga diarahkan untuk memahami pola belajar yang sesuai dengan dirinya, termasuk mengenali kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan.
“Kami akan mendampingi secara psikologis, bagaimana mereka tahu cara belajar. Kemudian kami juga mempersiapkan anak-anak untuk menggali apa yang menjadi potensi di dalam diri mereka yang nantinya akan dikembangkan melalui kurikulum,” pungkasnya.
#20
80 Siswa SNT 11 Tarakan Jalani MPLS dan Pemetaan Potensi
TARAKAN – Sebanyak 80 siswa yang menjadi angkatan pertama Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi tahap awal dalam memetakan karakter, kemampuan belajar, serta potensi masing-masing peserta didik.
Kepala SNT 11 Tarakan, Friny Napasti, menjelaskan bahwa MPLS menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran secara penuh. “Anak-anak mulai mempersiapkan diri untuk masuk dalam proses pembelajaran. Mereka dikenalkan dengan warga sekolah, lingkungan sekolah, sekaligus mengikuti berbagai kegiatan pembiasaan,” kata Friny, Senin (10/8).
Menurutnya, kegiatan pembiasaan yang diberikan antara lain program Anak Indonesia Hebat dan Pagi Ceria. Rangkaian tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan positif sekaligus membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.
“Jadi mereka benar-benar dipersiapkan supaya nantinya bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik,” ujarnya.
Berbeda dengan MPLS pada sekolah reguler, SNT 11 Tarakan memberikan tahapan lanjutan berupa pra-studi. Program tersebut menjadi masa transisi bagi siswa sebelum memasuki pembelajaran yang lebih terstruktur.
“Yang berbeda dengan MPLS di sekolah reguler, kami akan melanjutkan dengan kegiatan pra-studi. Ini merupakan kegiatan untuk mempersiapkan anak-anak agar siap belajar,” jelasnya.
Dalam pra-studi, pendampingan tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Siswa juga diarahkan untuk memahami pola belajar yang sesuai dengan dirinya, termasuk mengenali kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan.
“Kami akan mendampingi secara psikologis, bagaimana mereka tahu cara belajar. Kemudian kami juga mempersiapkan anak-anak untuk menggali apa yang menjadi potensi di dalam diri mereka yang nantinya akan dikembangkan melalui kurikulum,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, mengatakan pelaksanaan MPLS dan pra-studi di SNT 11 Tarakan menjadi bagian penting karena sekolah tersebut merupakan program pendidikan yang memiliki pola pembinaan khusus. Pemetaan sejak awal diperlukan agar proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter peserta didik.
Tamrin menilai siswa perlu mendapatkan masa adaptasi yang cukup sebelum mengikuti pembelajaran secara penuh. “Anak-anak ini kan masuk dalam lingkungan yang baru, sehingga perlu ada proses pengenalan dan penyesuaian. Kita ingin mereka tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga siap secara mental dan sosial,” katanya.
Menurut Tamrin, hasil pemetaan selama masa awal pendidikan tersebut nantinya dapat menjadi bahan bagi sekolah dalam menentukan pola pendampingan dan pengembangan kemampuan siswa. “Potensi setiap anak berbeda-beda. Karena itu, sejak awal harus kita kenali supaya guru bisa memberikan pendampingan dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” tuturnya.
Ia berharap keberadaan SNT 11 Tarakan dapat memberikan model pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan akademik sekaligus karakter peserta didik. “Kita berharap anak-anak ini bisa berkembang sesuai potensinya dan mendapatkan pendidikan yang terbaik selama mengikuti proses pembelajaran di SNT 11 Tarakan,” pungkasnya.












