TARAKAN – Dinas Pendidikan Kota Tarakan mengarahkan penerapan SiGanak Hibot pada pembentukan kebiasaan positif peserta didik secara konsisten. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diterapkan dalam keseharian diharapkan tumbuh menjadi budaya dan membentuk karakter anak.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., mengatakan kebiasaan yang dibangun sejak usia sekolah perlu dilakukan secara berulang agar menjadi bagian dari pola kehidupan anak. Menurutnya, perubahan karakter tidak terbentuk dalam waktu singkat.
“Kebiasaan itu sebenarnya sederhana. Tetapi kalau dilakukan terus-menerus, lama-lama bisa menjadi budaya. Harapan kita dari budaya itu kemudian terbentuk karakter anak-anak kita ke depan,” kata Tamrin.
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian berkaitan dengan pola istirahat dan aktivitas anak. Tamrin menilai kebiasaan tidur lebih awal dan bangun pagi perlu dibangun karena berpengaruh terhadap kesiapan anak menjalani aktivitas pada hari berikutnya.
“Anak sekarang ada yang tidur lambat, kemudian bangunnya juga lambat. Kita harapkan mereka terbiasa tidur lebih cepat supaya bisa bangun lebih awal. Setelah bangun, bagi yang muslim tentu bisa dilanjutkan dengan kegiatan ibadah,” ujarnya.
Menurut Tamrin, kebiasaan tersebut memiliki kaitan dengan kedisiplinan anak dalam mengatur waktu. Rutinitas yang dilakukan setiap hari dapat membantu anak mengenali waktu untuk beristirahat, belajar, beribadah dan menjalankan aktivitas lainnya.
Selain pola tidur, pembiasaan juga diarahkan pada pemenuhan kebutuhan fisik dan aktivitas sosial anak. Tujuh kebiasaan tersebut mencakup berbagai aspek yang diharapkan dapat membangun keseimbangan dalam kehidupan peserta didik.
Tamrin mengatakan anak juga perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Interaksi dengan masyarakat dan keterlibatan dalam kegiatan bersama menjadi bagian dari pengalaman yang dapat membentuk sikap sosial.
“Anak-anak kita harapkan bisa bermasyarakat, peduli dengan lingkungan sosial dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kalau ada kegiatan bersih-bersih atau gotong royong, anak-anak juga diharapkan ikut terlibat,” katanya.
Ia menilai pembentukan karakter akan lebih kuat ketika kebiasaan tersebut menjadi bagian dari rutinitas anak, bukan hanya dilakukan pada waktu tertentu. Karena itu, kesinambungan pembiasaan menjadi hal yang penting dalam penerapan program.
Tamrin juga mengingatkan pentingnya keseimbangan aktivitas anak dengan perkembangan teknologi. Penggunaan perangkat digital sudah menjadi bagian dari kehidupan peserta didik sehingga perlu diarahkan agar tetap mendukung kegiatan belajar dan pengembangan diri.
“Sekarang anak-anak dekat dengan gadget. Kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi, tetapi bagaimana penggunaannya juga diarahkan untuk hal yang positif. Misalnya membaca buku elektronik atau mengerjakan tugas sekolah,” tuturnya.
Melalui SiGanak Hibot, kebiasaan yang dibangun tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang ingin diperkuat Disdik Tarakan. Tamrin berharap pembiasaan dapat berlangsung secara konsisten dalam berbagai lingkungan kehidupan anak.
“Kebiasaan-kebiasaan positif ini kita harapkan terus dilakukan. Kalau sudah terbiasa, kemudian menjadi budaya, dan dari budaya itulah kita berharap karakter anak-anak kita terbentuk,” pungkas Tamrin.












