TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat sendiri. Potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berskala besar yang dimiliki daerah ini dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat pasokan energi bagi kawasan industri hingga membuka peluang distribusi listrik ke sejumlah wilayah di Kalimantan dan negara tetangga.
Potensi tersebut terutama berada di wilayah Mentarang, Kabupaten Malinau, dan Peso, Kabupaten Bulungan. Dengan kapasitas pembangkitan yang besar, kedua wilayah itu dinilai memiliki prospek strategis dalam pengembangan sektor energi Kaltara.
Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara Jufri Budiman mengatakan, pengembangan energi di Kaltara perlu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya pembangkit berskala besar, tetapi juga energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang berada jauh dari jaringan utama PLN.
“EBT itu memang kita persiapkan untuk daerah-daerah yang jangkauannya agak jauh,” kata Jufri, baru-baru ini.
Menurut dia, masih terdapat sejumlah desa di Kaltara yang membutuhkan dukungan infrastruktur kelistrikan. Kondisi geografis menjadi salah satu tantangan karena sebagian wilayah berada cukup jauh dari jaringan listrik utama.
Karena itu, pemanfaatan EBT dinilai menjadi salah satu solusi, khususnya untuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Pemerintah daerah juga didorong memperkuat komunikasi dengan pemerintah pusat agar kebutuhan infrastruktur dan pembiayaan dapat memperoleh dukungan.
Jufri mengatakan, DPRD Kaltara turut berkomunikasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara terkait upaya memperluas akses listrik di wilayah yang belum terjangkau PLN.
“Kami terus berdiskusi dengan Kepala Dinas ESDM, bagaimana supaya bisa berkomunikasi dengan kementerian dan mendapat bantuan dari pusat untuk saudara-saudara kita yang memang agak jauh dari jangkauan PLN,” ujarnya.
Di sisi lain, potensi PLTA berskala besar menjadi peluang yang jauh lebih strategis. Jika pembangkit di Mentarang dan Peso dapat direalisasikan dan beroperasi secara optimal, Kaltara berpeluang memiliki surplus energi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
Jufri menilai kondisi tersebut dapat mengubah posisi Kaltara dari daerah yang masih membutuhkan penguatan pasokan listrik menjadi salah satu daerah pemasok energi.
“Ketika ini sudah beroperasi, bukan hanya Kaltara yang terang. Suplainya bisa lebih besar,” katanya.
Menurut dia, besarnya potensi energi tersebut bahkan memungkinkan listrik Kaltara didistribusikan ke wilayah lain di Pulau Kalimantan. Peluang tersebut mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah.
Tidak hanya antarwilayah di Indonesia, pembahasan yang pernah dilakukan bersama pemerintah pusat juga membuka peluang pemanfaatan energi Kaltara untuk kawasan perbatasan dan negara tetangga.
“Bukan hanya Kalimantan Selatan, Kalbar, Kalteng, tapi kita bisa jual sampai negara tetangga yang ada di Brunei maupun Malaysia Timur, Sabah,” pungkasnya.













