TARAKAN – Perjuangan pelajar Kota Tarakan di ajang Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dimulai. Kontingen Tarakan membawa sejumlah pemain terbaik hasil seleksi untuk bersaing dalam kompetisi yang berlangsung 1 hingga 3 September 2026 di Tanjung Selor.
Para pemain yang memperkuat kontingen Tarakan merupakan pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang telah memenuhi ketentuan usia peserta. Mereka dipersiapkan tidak hanya untuk mengejar hasil terbaik di tingkat provinsi, tetapi juga membuka peluang melanjutkan persaingan hingga tingkat nasional.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan Tamrin Toha mengatakan, pemain yang dipilih telah memenuhi ketentuan usia dalam kompetisi GSI. Peserta merupakan pelajar jenjang SMP dengan rentang usia sekitar 12 hingga 15 tahun.
“Yang jelas masuk usia SMP. SMP itu kan antara 12 sampai 15 tahun,” tuturnya, Senin (31/8).
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Tarakan Edhy Pujianto menambahkan, kekuatan tim Tarakan berasal dari sejumlah sekolah. Beberapa di antaranya merupakan pemain dari SMP Negeri 11 dan SMP Negeri 3 Tarakan.
“Kekuatan di antaranya SMP 11, ada dari SMP 3. Kemudian dari putri itu juga dari SMP 11, SMP 3,” katanya.
Menurut Edhy, pemain yang terpilih merupakan hasil penjaringan berdasarkan kemampuan masing-masing. Asal sekolah bukan menjadi satu-satunya pertimbangan dalam pembentukan tim, karena kemampuan pemain menjadi bagian penting dalam proses seleksi.
Edhy berharap para pemain mampu memanfaatkan kompetisi tersebut sebagai pengalaman untuk mengembangkan kemampuan. Menurutnya, GSI tidak sekadar menjadi tempat bagi pelajar untuk mengejar kemenangan, tetapi juga bagian dari pembinaan olahraga sekaligus pembentukan karakter.
“Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk mencari juara. GSI juga menjadi sarana pembinaan olahraga pelajar sekaligus pembentukan karakter generasi muda melalui aktivitas kompetitif yang sehat,” urainya.
Karena pertandingan akan berlangsung dalam beberapa hari, kesiapan fisik dan mental menjadi perhatian. Para pemain dan guru pendamping diminta menjaga kondisi sebelum maupun selama pertandingan.
“Harapan-harapan untuk para atlet atau kontingen, itu juga para guru pendampingnya supaya mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk bertanding. Dan juga menjaga sportivitas,” katanya.
Edhy menilai pengalaman bertanding dapat memberikan pembelajaran bagi pelajar. Persaingan di lapangan diharapkan mampu membentuk kedisiplinan, ketangguhan dan sikap pantang menyerah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sedikit banyak akan melatih anak-anak kita untuk membentuk karakternya, terutama dari kedisiplinannya, kemudian dari ketangguhannya, pantang menyerah,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pemain agar tidak hanya memikirkan hasil akhir. Setiap pertandingan memiliki kemungkinan menang maupun kalah sehingga para pemain harus mampu menyikapi hasil secara dewasa.
“Dalam berbagai lomba selalu biasalah ada yang menang ada yang kalah. Jadi kalaupun kalah tidak patah semangat, kalaupun menang tidak jemawa, tidak tinggi hati,” tuturnya.
Di sisi lain, Disdik Tarakan berharap penampilan para pemain dapat membawa hasil maksimal. Jika mampu menjadi yang terbaik di tingkat Kaltara, peluang untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional akan terbuka.
Menurut Edhy, kesempatan tersebut penting karena GSI dapat menjadi salah satu wadah untuk menemukan dan mengembangkan potensi sepak bola pelajar. Karena itu, pemain diminta menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus menjaga nama baik Kota Tarakan selama berada di Tanjung Selor.
“Harapan kita, anak-anak kita yang bertanding di dalam Gala Siswa Indonesia di tingkat provinsi ini diharapkan akan memberikan yang terbaik dalam rangka untuk memberikan prestasi yang terbaik sehingga mampu berbicara bukan hanya saja nanti di tingkat provinsi, harapannya nanti juga bisa berprestasi lebih jauh di tingkat nasional,” pungkasnya.













