TARAKAN – Kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya normal belum membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan mengubah pola pembelajaran di sekolah. Aktivitas belajar mengajar masih dilakukan secara tatap muka, sementara sekolah diminta melakukan langkah antisipasi untuk mengurangi paparan siswa terhadap udara luar.
Kepala Disdik Kota Tarakan Tamrin Toha mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini masih berada dalam kategori sedang sehingga belum menjadi dasar untuk meliburkan sekolah atau mengalihkan seluruh pembelajaran ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).
“Sebetulnya edaran Menteri itu juga ditujukan kepada seluruh satuan pendidikan. Tapi untuk memperkuat itu kami juga nanti akan memberikan SE,” jelasnya, Senin (31/8).
Menurut Tamrin, sekolah tetap perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi kualitas udara. Aktivitas yang dilakukan di luar ruangan menjadi salah satu perhatian karena dapat meningkatkan paparan siswa terhadap udara yang tercemar asap.
Karena itu, kegiatan outdoor yang tidak mendesak diminta untuk dibatasi. Sementara kegiatan belajar mengajar di dalam kelas tetap dapat berjalan seperti biasa selama kondisi udara masih berada pada kategori sedang.
Penggunaan masker juga menjadi salah satu langkah antisipasi yang disiapkan sekolah. Namun, untuk saat ini penggunaannya belum diwajibkan kepada seluruh siswa.
“Untuk saat ini masih sebatas imbauan. Tapi sekolah kami minta menyiapkan masker sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.
Tamrin menjelaskan, kategori kualitas udara sedang berada pada rentang indeks 51 hingga 100. Sedangkan indeks 101 sampai 200 sudah masuk kategori tidak sehat.
“Kalau kualitas udara berada di sekitar 87, kondisi itu masih berada dalam kategori sedang. Berarti rentang sedang itu 51 sampai 100. Kalau sudah lebih 100 sampai 200, itu sudah tidak sehat,” ucapnya.
Apabila kualitas udara mengalami peningkatan dan masuk kategori tidak sehat, Disdik akan mempertimbangkan perubahan pola pembelajaran. Salah satu opsi yang dapat diterapkan adalah pembelajaran secara daring untuk mengurangi aktivitas siswa di luar rumah.
“Saat ini saya kira masih kategori sedang, tapi kalau indeks kualitas udara telah berada di atas ambang kategori sedang, sekolah diperbolehkan melaksanakan pembelajaran secara daring,” ungkapnya.
Meski demikian, Tamrin menegaskan kondisi kualitas udara tetap dipantau. Satuan pendidikan diminta tidak mengabaikan perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas apabila terjadi perubahan kondisi.
“Jadi kami masih melihat pembelajaran tatap muka sebagai pilihan utama. Tapi, aktivitas yang berpotensi meningkatkan paparan siswa terhadap udara luar akan dibatasi, terutama kegiatan yang dilakukan di ruang terbuka,” pungkasnya.













