TARAKAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan mematangkan kesiapan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 dengan membekali para operator sekolah melalui Bimbingan Teknis (Bimtek). Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kendala dalam proses pendaftaran sekaligus memastikan pelaksanaan SPMB berjalan objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
Bimtek yang dipusatkan di SMP Negeri 4 Tarakan tersebut berlangsung selama dua hari dan berakhir pada Jumat (19/6/2026). Kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yakni hari pertama bagi operator Sekolah Dasar (SD) dan hari kedua untuk seluruh operator Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri se-Kota Tarakan.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdik Tarakan, Edhy Pujianto, mengatakan seluruh perangkat pelaksanaan SPMB telah disiapkan, termasuk petunjuk teknis dan kanal pendaftarannya.
“Kita sudah menyiapkan petunjuk teknis pelaksanaan dan kanalnya. Walaupun pelaksanaannya masih semi-online (kombinasi online dan offline), namun secara sistem, semua jalur pendaftaran sudah bisa diantisipasi dan dipantau langsung oleh orang tua maupun calon murid,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, secara umum mekanisme SPMB tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada jenjang SD tersedia jalur domisili, afirmasi, dan mutasi. Sedangkan pada jenjang SMP ditambah dengan jalur prestasi.
Namun, terdapat pembaruan pada jalur prestasi SMP melalui penggunaan nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA). Menurut Edhy, komponen tersebut menjadi pembeda dibanding pelaksanaan tahun lalu.
“Untuk tahun ini, di jenjang SMP ada variasi sedikit pada jalur prestasi dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu tidak ada nilai TKA, sekarang jalur prestasi bisa menggunakan hasil TKA. Nilai TKA istimewa tentu poinnya lebih besar dibanding yang memadai,” jelasnya.
Melalui sistem yang telah disiapkan, operator sekolah hanya perlu memasukkan data prestasi yang dimiliki calon peserta didik, baik berupa nilai TKA, nilai rapor, maupun prestasi non-akademik. Selanjutnya sistem akan secara otomatis memilih bobot nilai tertinggi sebagai dasar penentuan peringkat.
Edhy menuturkan, seluruh sekolah negeri diminta mengirimkan perwakilan operator untuk mengikuti pelatihan tersebut. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat disebarluaskan kepada operator lainnya di masing-masing sekolah.
“Harapan kita, setelah dari Bimtek ini mereka mendiseminasi informasinya kepada rekan-rekan operator lain di sekolahnya. Karena di sekolah yang siswanya banyak, operatornya bisa dua sampai tiga orang,” katanya.
Menurutnya, pengoperasian sistem SPMB sebenarnya cukup sederhana. Namun, pemahaman yang baik tetap diperlukan agar operator sekolah sebagai garda terdepan pelayanan tidak mengalami kendala dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
“Tujuannya supaya sistem yang sudah kita buat ini bisa diakses dan dioperasikan dengan baik oleh para operator, sehingga pelayanan ke masyarakat menjadi lebih maksimal,” pungkasnya.













