TARAKAN – Konsep sekolah aman dan nyaman di Kota Tarakan tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan maupun lingkungan fisik sekolah. Dinas Pendidikan Kota Tarakan memasukkan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar lingkungan belajar siswa tetap aman dan nyaman.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Edhy Pujianto, mengatakan konsep tersebut mencakup aspek fisik, psikososial, sosiokultural, spiritual hingga keamanan digital.
“Jadi aman dan nyaman ini memenuhi beberapa aspek. Baik itu secara fisiknya, kemudian secara psikososialnya, secara sosiokulturalnya, secara spiritual, dan juga keamanan digital,” kata Edhy.
Pada aspek fisik, kondisi bangunan dan lingkungan sekolah menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk memastikan siswa dapat beraktivitas dengan aman. Aspek psikososial berkaitan dengan suasana yang mendukung kondisi siswa selama menjalani proses pendidikan.
Sementara aspek sosiokultural menyangkut hubungan dan interaksi warga sekolah. Lingkungan pendidikan perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berinteraksi secara baik dengan tetap menghargai keberagaman.
Aspek spiritual juga menjadi bagian dari penerapan sekolah aman dan nyaman. Menurut Edhy, siswa perlu mendapatkan ruang untuk menjalankan ajaran agama masing-masing tanpa perlakuan diskriminatif.
“Secara spiritual artinya tidak ada diskriminasi untuk penganut-penganut agama, tetapi semuanya difasilitasi sehingga mereka bebas melaksanakan ajarannya dengan baik sesuai dengan ajaran yang dianutnya,” ujarnya.
Selain empat aspek tersebut, keamanan digital menjadi bagian lain yang turut diperhatikan. Penggunaan media sosial di kalangan siswa membuat lingkungan digital juga perlu mendapat perhatian, termasuk potensi gangguan dan perundungan melalui media sosial.
Edhy mengatakan berbagai unsur tersebut telah disampaikan kepada warga sekolah dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang mengedepankan konsep ramah anak.
“Dalam MPLS kemarin, semua unsurnya sudah kita sampaikan kepada seluruh warga sekolah karena dia menjadi satu kesatuan untuk MPLS ramah,” katanya.
Menurut Edhy, penerapan konsep tersebut berkaitan dengan fungsi sekolah sebagai ruang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, menambah pengetahuan sekaligus membentuk karakter.
“Kegiatan belajar mengajar itu sebenarnya suatu situasi untuk membuat mereka menambah pengalaman belajar, menambah ilmunya, membentuk karakternya. Sehingga di kemudian hari, dengan satuan pendidikan yang bermutu ini, mereka akan menjadi manusia-manusia yang berdaya guna, berdaya saing, dan tentunya berkualitas di masanya nanti,” pungkas Edhy.













