TARAKAN – Upaya deteksi dini Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Tarakan terus diperluas. Hingga Semester I 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan telah melakukan pemeriksaan terhadap 3.673 orang dari berbagai kelompok sasaran. Dari ribuan pemeriksaan tersebut, ditemukan 30 orang dengan hasil positif HIV.
Angka tersebut menunjukkan kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) masih menjadi kelompok dengan temuan positif tertinggi. Dari 30 kasus yang ditemukan sepanjang enam bulan pertama 2026, sebanyak 16 kasus atau 53,3 persen berasal dari kelompok tersebut.
Kepala Dinkes Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti mengatakan, data temuan HIV harus dibaca bersamaan dengan cakupan pemeriksaan. Menurutnya, bertambahnya jumlah kasus yang terdeteksi tidak serta-merta berarti terjadi lonjakan penularan. Sebab, semakin banyak masyarakat yang diperiksa, semakin besar pula peluang kasus yang sebelumnya tidak diketahui dapat ditemukan.
“Ada peningkatan. Maksudnya peningkatan yang diperiksa dan pasti ada yang positif. Sepanjang 2025, kami Tarakan mencatat 7.314 orang telah menjalani tes HIV. Capaian tersebut melampaui target pemeriksaan yang ditetapkan sebanyak 7.093 orang atau mencapai 103,1 persen,” ujarnya, Minggu (9/8).
Sepanjang 2025, Dinkes Tarakan mencatat 64 kasus positif dari total pemeriksaan tersebut. Kelompok LSL menyumbang 30 kasus atau 46,9 persen dari seluruh temuan. Pemeriksaan terhadap kelompok itu dilakukan kepada 384 orang.
Setelah LSL, pasien Tuberkulosis (TB) menjadi kelompok dengan temuan positif terbanyak. Sebanyak 17 kasus ditemukan dari kelompok tersebut atau mencapai 26,6 persen. Sementara kelompok Wanita Penjaja Seks (WPS) menyumbang tujuh kasus.
“Kemudian ditemukan tujuh kasus pada kelompok Wanita Penjaja Seks (WPS), empat kasus pada ibu hamil, serta masing-masing dua kasus pada pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), waria, dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP),” jelasnya.
Memasuki 2026, kecenderungan tersebut belum berubah. Sampai Semester I, pemeriksaan baru mencapai 3.673 orang atau sekitar 51,6 persen dari target tahunan sebanyak 7.118 orang. Dari pemeriksaan itu, ditemukan 30 kasus positif HIV.
Kelompok LSL kembali menjadi penyumbang terbesar. Dari 226 orang LSL yang menjalani pemeriksaan, 16 orang dinyatakan positif HIV. Persentasenya mencapai 53,3 persen dari keseluruhan kasus yang ditemukan hingga pertengahan tahun.
“Pemeriksaan terhadap kelompok LSL pada periode tersebut dilakukan terhadap 226 orang. Selain itu, ditemukan sembilan kasus positif dari pasien TB, tiga kasus dari kelompok WPS, dan dua kasus pada ibu hamil,” terangnya.
Devi menjelaskan, temuan HIV di Tarakan masih banyak berada pada kelompok usia 20 tahun ke atas. Kelompok tersebut merupakan bagian dari usia produktif. Dari sisi jenis kelamin, temuan positif juga masih lebih banyak ditemukan pada laki-laki.
Menurutnya, hasil penelusuran menunjukkan penularan HIV yang ditemukan saat ini lebih banyak berkaitan dengan aktivitas seksual. Sementara penularan yang berhubungan dengan penggunaan jarum suntik belum ditemukan dalam temuan terbaru.
“Berdasarkan penelusuran terhadap temuan yang ada, penularan HIV lebih banyak berkaitan dengan hubungan seksual. Sementara penularan yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik tidak ditemukan dalam temuan terbaru,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat strategi skrining menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV. Namun, upaya menjangkau kelompok sasaran tidak selalu berjalan mulus. Petugas kesehatan masih menghadapi penolakan ketika melakukan pemeriksaan, terutama saat berhadapan dengan kelompok yang dinilai sulit dijangkau.
Devi mengakui pendekatan kepada kelompok tertentu membutuhkan strategi khusus. Sebab, tidak seluruh sasaran bersedia menjalani pemeriksaan ketika petugas melakukan skrining.
“Ada, ada peningkatan kasus. Cuma kami mendeteksi LGBT saat ini lebih sulit. Kalau kami mau masuk kadang-kadang orang pasti menolak kalau diperiksa,” katanya.
Hambatan serupa juga dapat terjadi ketika pemeriksaan dilakukan di lingkungan perusahaan atau tempat kerja. Sebagian pihak masih memiliki kekhawatiran apabila pemeriksaan menemukan pekerja yang terinfeksi HIV.
Padahal, menurut Devi, skrining justru diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal. Status HIV yang diketahui sejak dini memungkinkan seseorang mendapatkan penanganan dan pendampingan sesuai kebutuhan.
Dinkes Tarakan pun membagi sasaran pemeriksaan kepada sejumlah fasilitas kesehatan. Pembagian tersebut dilakukan agar pelaksanaan skrining tidak hanya bergantung kepada satu puskesmas, sekaligus memperluas jangkauan pemeriksaan di berbagai lokasi.
“Kami terus berupaya memperluas pemeriksaan dengan melibatkan sejumlah fasilitas kesehatan. Puskesmas diberikan pembagian lokasi skrining agar pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih merata,” bebernya.
Devi menegaskan, pembagian lokasi skrining membuat jumlah kasus yang ditemukan di suatu puskesmas tidak dapat langsung dijadikan indikator tingginya kasus HIV di wilayah kerja fasilitas kesehatan tersebut.
Sebab, lokasi pemeriksaan telah dibagi berdasarkan sasaran yang ditentukan Dinkes. Puskesmas yang menemukan lebih banyak kasus belum tentu berada di wilayah dengan tingkat penularan lebih tinggi.
“Jadi puskesmas tidak melihat wilayahnya. Tempat-tempatnya kami bagi-bagi supaya tidak ada satu puskesmas yang lebih rendah daripada yang lain,” jelasnya.
“Artinya, kalau ada puskesmas menemukan lebih banyak kasus, itu belum tentu menunjukkan wilayah tersebut memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Bisa saja lokasi pemeriksaan memang lebih banyak diarahkan kepada puskesmas tersebut berdasarkan pembagian sasaran skrining,” sambungnya.
Sejumlah fasilitas kesehatan dilibatkan dalam pemeriksaan HIV, di antaranya Puskesmas Kampung 1/Karang Rejo, Puskesmas Juata Laut atau Juata Permai, Puskesmas Mamburungan, dan Puskesmas Gunung Lingkas. Pemeriksaan dan layanan lanjutan juga tersedia melalui rumah sakit, termasuk RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan dan Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT).
Dengan capaian 3.673 pemeriksaan pada Semester I, Dinkes masih memiliki pekerjaan untuk memenuhi target tahunan. Sebanyak 3.445 pemeriksaan masih harus dikejar hingga akhir 2026 agar target 7.118 orang dapat tercapai.
“Saat ini kami masih memiliki pekerjaan untuk mengejar target pemeriksaan 2026. Dengan target 7.118 orang, capaian 3.673 pemeriksaan pada Semester I masih akan dilanjutkan pada paruh kedua tahun ini,” jelasnya.













