TARAKAN – Kondisi bangunan SD 037 di kawasan Gunung Bata, Selumit, menjadi salah satu perhatian dalam penanganan sarana pendidikan Kota Tarakan. Sekolah tersebut mendapat rehabilitasi setelah mengalami dampak gempa, dengan sejumlah bagian bangunan diperbaiki untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., menjelaskan pekerjaan rehabilitasi mencakup beberapa bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan. Penanganan dilakukan pada atap, plafon, pengecatan hingga bagian struktur bangunan yang terdampak.
“SD 037 itu memang terdampak gempa. Sekarang sedang dilakukan renovasi. Ada bagian atap, plafon, kemudian pengecatan dan struktur bangunan yang juga diperbaiki,” ujar Tamrin.
Selama pekerjaan berlangsung, aktivitas pembelajaran tetap dilaksanakan di lingkungan sekolah. Pengaturan kegiatan belajar disesuaikan dengan kondisi ruang yang sedang dikerjakan agar proses pendidikan peserta didik tetap dapat berjalan.
Tamrin menyebut penggunaan dua shift diberlakukan sementara pada sekolah tersebut. Pengaturan itu dilakukan karena sebagian ruang kelas sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tidak seluruh ruangan dapat digunakan pada waktu bersamaan.
“Anak-anak masih belajar di sekolah. Karena ada beberapa ruangan yang sedang direnovasi, untuk sementara pembelajarannya diatur menjadi dua shift. Jadi kegiatan belajar tetap berjalan sambil pekerjaan perbaikan dilaksanakan,” jelasnya.
Penanganan SD 037 menjadi bagian dari program perbaikan sarana pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan bangunan. Kondisi fisik sekolah menjadi salah satu dasar dalam menentukan jenis pekerjaan yang diperlukan, termasuk ketika kerusakan menyangkut bagian struktur.
Perbaikan juga diarahkan agar bangunan dapat kembali digunakan dengan kondisi yang lebih layak. Bagian-bagian yang mengalami kerusakan ditangani sesuai kebutuhan pekerjaan, sehingga fasilitas sekolah dapat mendukung kegiatan siswa dan tenaga pendidik.
“Yang kita perbaiki itu bagian-bagian yang memang terdampak. Kita lihat kondisi bangunannya, kemudian pekerjaannya disesuaikan. Harapannya setelah selesai, ruang-ruang yang diperbaiki bisa digunakan kembali dengan baik,” kata Tamrin.
Menurut Tamrin, kondisi sekolah yang terdampak bencana membutuhkan penanganan yang cermat karena menyangkut keamanan bangunan dan keberlangsungan aktivitas belajar. Karena itu, proses rehabilitasi dilakukan dengan memperhatikan bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan.
Ia berharap setelah pekerjaan rampung, seluruh ruang yang sebelumnya terdampak dapat kembali dimanfaatkan secara optimal. Dengan kondisi bangunan yang lebih baik, siswa dan guru dapat menjalankan kegiatan pembelajaran dengan fasilitas yang lebih memadai.
“Harapan kita setelah renovasi selesai, anak-anak bisa kembali menggunakan ruang kelas dengan nyaman. Perbaikan ini kita lakukan supaya kondisi sekolah menjadi lebih baik dan kegiatan belajar bisa berjalan dengan fasilitas yang layak,” pungkas Tamrin.













