TARAKAN – Aplikasi SiGanak Hibot mulai digunakan di seluruh sekolah negeri dan swasta di Kota Tarakan sejak 14 September 2026. Aplikasi yang diluncurkan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026, tersebut dirancang untuk membantu Dinas Pendidikan memantau penerapan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., mengatakan penggunaan aplikasi baru diterapkan setelah sejumlah persiapan dilakukan. Tahap tersebut mencakup bimbingan teknis bagi guru serta sosialisasi kepada orang tua dan siswa mengenai tata cara penggunaan SiGanak Hibot.
“Memang sudah diluncurkan pada 2 Mei, tetapi untuk digunakan di semua sekolah baru dimulai 14 September. Sebelumnya kami melakukan persiapan, guru diberikan bimtek, kemudian orang tua dan siswa juga kami sosialisasikan mengenai penggunaan aplikasi ini,” kata Tamrin.
Menurut Tamrin, tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebenarnya sudah diterapkan di sekolah-sekolah. Namun, pemantauan dan pencatatan sebelumnya masih dilakukan dengan cara manual sehingga informasi perkembangan kebiasaan siswa belum dapat dipantau secara cepat.
“Selama ini sebenarnya sudah dilaksanakan oleh sekolah, hanya pencatatannya masih manual, menggunakan kertas. Dengan aplikasi ini, orang tua bisa melihat, sekolah juga bisa memantau, termasuk Dinas Pendidikan dapat melihat secara real-time,” ujarnya.
Sistem tersebut memungkinkan siswa maupun orang tua ikut melakukan pengisian. Pendampingan orang tua terutama diperlukan bagi siswa kelas rendah yang belum sepenuhnya mampu melakukan pengisian secara mandiri.
“Anak boleh mengisi, orang tua juga boleh. Kalau anak-anak yang masih kecil, tentu orang tua bisa mendampingi. Karena ada kebiasaan yang memang berlangsung di rumah dan orang tua yang lebih mengetahui,” jelas Tamrin.
Disdik Tarakan kemudian akan menggunakan data yang masuk untuk melihat perkembangan penerapan kebiasaan tersebut.
Tamrin mengatakan ukuran keberhasilannya bukan pada banyaknya data yang terkumpul, melainkan perubahan sikap dan perilaku yang mulai terlihat dalam keseharian siswa.
“Kita mau melihat apakah ada perubahan sikap dan perilaku anak-anak kita, baik di rumah maupun di sekolah. Jadi aplikasi ini membantu kita memantau proses pembentukan karakter tersebut,” katanya.
Pada tahap awal penerapan, Tamrin menyebut respons siswa dan orang tua cukup baik. Ia bahkan menerima laporan mengenai siswa yang mulai tertarik menggunakan telepon seluler untuk membuka dan mengisi kegiatan dalam aplikasi.
“Saya mendapat laporan ada anak yang tadinya lebih banyak bermain HP, sekarang mulai aktif membuka aplikasi dan mengisi kegiatan. Di dalam aplikasi juga ada refleksi, sehingga anak bisa melihat kembali kebiasaan yang sudah dilakukannya,” ungkapnya.
Tujuh kebiasaan tersebut berkaitan dengan aktivitas anak dalam keseharian, termasuk pola tidur dan bangun, ibadah, pemenuhan makanan bergizi, hingga interaksi dengan lingkungan sosial. Penerapannya membutuhkan peran keluarga karena sebagian aktivitas berada di luar pengawasan sekolah.
“Tidur lebih cepat dan bangun lebih awal misalnya, itu kan orang tua yang mengontrol. Kemudian makanan bergizi juga banyak bergantung pada keluarga. Anak-anak juga kita harapkan terbiasa bermasyarakat, peduli dengan lingkungan dan mau terlibat dalam kegiatan sosial,” tutur Tamrin.
Ia berharap penerapan kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten sehingga berkembang menjadi budaya positif dalam kehidupan peserta didik. Sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing dalam proses tersebut.
“Kalau kebiasaan yang positif dilakukan terus-menerus, harapan kita itu menjadi budaya dan akhirnya membentuk karakter anak-anak kita. Karena pendidikan karakter ini berlangsung di sekolah, di rumah dan juga di lingkungan masyarakat,” pungkas Tamrin.













