TARAKAN – Bukan kebakaran sungguhan, namun kepulan asap dan kobaran api terlihat di Kafe Patron, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah, Senin (28/9) siang. Situasi tersebut sengaja dibuat untuk menguji kesiapan Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan dalam menghadapi laporan kebakaran.
Simulasi dilakukan dengan skenario yang dibuat menyerupai kejadian sebenarnya. Bahkan, tidak seluruh personel mengetahui kegiatan tersebut sehingga waktu respons dapat diukur secara lebih objektif.
Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran (PMK) dan Penyelamatan Eko Supriatnoko mengatakan, informasi mengenai kejadian diterima sekitar pukul 13.03 WITA. Setelah laporan diteruskan, regu piket langsung bergerak menuju lokasi.
“Informasi kami terima sekitar pukul 13.03 WITA, kemudian regu piket langsung kami kerahkan ke lokasi,” ujarnya, Senin (28/9).
Sebanyak 12 personel dilibatkan dalam simulasi. Mereka berasal dari regu sektor barat dan Markas Komando (Mako). Dua unit armada juga dikerahkan untuk mengukur respons dari dua titik berbeda.
Unit sektor barat tercatat tiba sekitar empat menit setelah menerima informasi. Selanjutnya, armada dari Mako tiba sekitar satu menit kemudian.
“Dari hasil pengujian, unit sektor barat tiba sekitar empat menit setelah menerima informasi. Selang sekitar satu menit kemudian, unit dari Mako tiba di lokasi,” jelasnya.
Simulasi tidak hanya mengukur kecepatan personel dan armada. PMK juga menguji prosedur penanganan kebakaran yang melibatkan tabung gas elpiji 12 kilogram.
Dalam skenario tersebut, petugas melakukan pendinginan terhadap sumber gas sembari mengendalikan kobaran api menggunakan nozzle. Penanganan dilakukan secara bertahap sebelum sumber gas berhasil diamankan.
“Petugas terlebih dahulu melakukan penyemprotan menggunakan nozzle untuk mengendalikan api sekaligus mendinginkan sumber gas. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah risiko yang lebih besar sebelum sumber gas berhasil diamankan,” ucapnya.
Setelah sumber gas dinyatakan aman, proses pemadaman dilanjutkan sampai kondisi lokasi terkendali. Seluruh rangkaian simulasi berlangsung sekitar tujuh menit.
Eko mengatakan simulasi menjadi bagian dari evaluasi rutin untuk memastikan personel terbiasa menghadapi berbagai karakteristik kebakaran. Lokasi latihan juga tidak terbatas pada perkantoran.
“Kegiatan serupa secara berkala dilakukan PMK Tarakan dengan melibatkan berbagai pihak. Tidak hanya perkantoran, latihan juga menyasar restoran, kafe dan fasilitas lain yang memiliki potensi menghadapi kondisi kebakaran,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta memahami langkah awal ketika terjadi kebakaran. Menurutnya, kecepatan penanganan pada fase awal sangat menentukan agar api tidak berkembang.
“Tahap awal kebakaran itu golden time. Prinsip paling utama dalam kebakaran adalah melokalisir atau memblok supaya api tidak meluas. Itu yang terus kami edukasikan kepada masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, simulasi tersebut menjadi sarana untuk melihat kesiapan petugas sekaligus memastikan prosedur penanganan dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan.
“Melalui simulasi ini, kami tidak hanya mengevaluasi kecepatan mobilisasi personel dan armada, tetapi juga memastikan setiap petugas memahami prosedur penanganan sesuai karakteristik kebakaran yang dihadapi di lapangan,” pungkasnya.













