TARAKAN – Tidak semua pelajar di Kota Tarakan memiliki kemudahan untuk pulang dan pergi ke sekolah. Jarak permukiman yang jauh, keterbatasan kendaraan keluarga, hingga belum tersedianya angkutan yang menjangkau tempat tinggal menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian siswa. Persoalan inilah yang dahulu mendorong munculnya gagasan penyediaan bus sekolah di Tarakan.
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Alimin, mengungkapkan, kebutuhan tersebut bukan muncul dari perencanaan semata. Ia justru melihat langsung kesulitan yang dialami sejumlah siswa ketika masih mengajar di SMP Negeri 1 Tarakan.
Kala itu, beberapa siswa yang berasal dari Juata Laut dan Juata Kerikil kerap mengalami kesulitan mendapatkan kendaraan untuk pulang setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Situasi tersebut membuatnya berpikir bahwa pelajar yang tinggal jauh dari sekolah membutuhkan fasilitas transportasi tersendiri.
“Waktu saya masih mengajar di SMP Negeri 1, ada anak-anak dari Juata Laut dan Juata Kerikil yang kesulitan pulang. Kondisi itu membuat saya berpikir bahwa transportasi khusus pelajar memang diperlukan, terutama bagi anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah,” ujarnya, (31/10).
Dari pengalaman tersebut, Alimin mulai memperjuangkan gagasan penyediaan bus sekolah sekitar 2006–2007. Namun, kebutuhan yang telah disuarakan itu tidak langsung terwujud. Perlu waktu bertahun-tahun hingga armada bus sekolah akhirnya terealisasi pada 2015.
Kehadiran bus sekolah menjadi jawaban atas persoalan transportasi yang sebelumnya dihadapi sebagian pelajar. Siswa yang kesulitan mendapatkan kendaraan kini memiliki alternatif untuk menunjang perjalanan menuju maupun dari sekolah. Fasilitas ini juga membantu orang tua yang tidak selalu bisa mengantar dan menjemput anak karena pekerjaan atau kesibukan lainnya.
Namun, setelah layanan tersebut tersedia, persoalan jangkauan masih menyisakan pekerjaan rumah. Alimin mengakui, rute bus sekolah belum mampu menjangkau seluruh kawasan permukiman di Tarakan. Artinya, masih ada pelajar yang belum dapat memanfaatkan fasilitas tersebut karena lokasi tempat tinggal mereka berada di luar jalur layanan.
“Bus sekolah sudah ada dan sangat membantu anak-anak, tetapi memang belum semua wilayah terjangkau. Ada siswa yang tinggal di kawasan tertentu dan masih kesulitan mengakses rute bus. Persoalan seperti ini perlu dilihat agar layanan transportasi pelajar bisa sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan armada saja belum cukup untuk memastikan seluruh siswa memperoleh kemudahan transportasi. Jangkauan rute juga perlu disesuaikan dengan persebaran permukiman dan lokasi sekolah. Terlebih, kebutuhan pelajar yang tinggal di kawasan pinggiran berbeda dengan siswa yang bermukim tidak jauh dari sekolah.
Karena itu, evaluasi layanan bus sekolah perlu memperhatikan wilayah tempat tinggal siswa yang belum terakomodasi. Pemetaan kebutuhan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan rute agar manfaat fasilitas transportasi pendidikan lebih merata.
Alimin menilai, pengalaman saat masih mengajar menjadi pengingat bahwa persoalan transportasi dapat menjadi hambatan tersendiri bagi pelajar. Ia berharap kebutuhan tersebut tetap menjadi perhatian sehingga keberadaan bus sekolah tidak hanya membantu siswa di wilayah yang sudah terjangkau, tetapi juga dapat menjawab kebutuhan mereka yang masih kesulitan memperoleh angkutan.
“Bus sekolah ini berangkat dari kebutuhan anak-anak yang kesulitan mendapatkan transportasi, terutama mereka yang tinggal jauh dari sekolah. Pengalaman itu menunjukkan bahwa akses angkutan pelajar perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa di setiap wilayah,” pungkas Alimin.













