TARAKAN – Masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh pendidikan yang diterima di ruang kelas. Lingkungan pergaulan, pola asuh keluarga, hingga informasi yang dikonsumsi setiap hari turut membentuk karakter dan perilaku anak. Berbagai pengaruh tersebut menjadi tantangan dalam menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan, Alimin, menilai perlindungan dan pembinaan anak harus dilakukan secara bersama. Sebab, sekolah memiliki keterbatasan dalam mengawasi seluruh aktivitas siswa, terutama ketika mereka berada di luar lingkungan pendidikan.
Menurutnya, ada empat lingkungan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak, yakni keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keempatnya tidak dapat dipisahkan karena masing-masing memberikan kontribusi terhadap pembentukan pola pikir maupun kebiasaan anak.
“Kalau berbicara tentang pendidikan anak, bukan sekolah saja yang berperan. Ada keluarga, masyarakat, dan media yang ikut memengaruhi mereka. Semua lingkungan itu punya pengaruh terhadap cara anak berpikir dan bertindak,” ujar Alimin.
Ia mengingatkan, sejumlah persoalan sosial dapat mengganggu proses tumbuh kembang pelajar. Mulai dari penyalahgunaan narkoba, perkelahian, pergaulan berisiko, hingga tindakan yang membahayakan keselamatan diri.
Persoalan tersebut membutuhkan perhatian sejak dini. Anak perlu mendapatkan pendampingan agar tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif dan mampu mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
“Anak-anak ini harus kita jaga dari hal-hal yang bisa merugikan masa depan mereka. Jangan sampai mereka terjerumus narkoba, terlibat perkelahian, atau melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Pembinaan harus berjalan agar mereka tahu mana yang baik dan mana yang berisiko,” jelasnya.
Alimin menilai, keluarga menjadi salah satu lingkungan penting dalam proses tersebut. Pengawasan orang tua tidak hanya berkaitan dengan aktivitas anak di rumah, tetapi juga perlu mencakup pergaulan dan penggunaan media. Sementara sekolah berperan memberikan pendidikan serta pembinaan karakter selama proses pembelajaran.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Informasi dan tayangan media pun perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi cara pandang pelajar dalam menyikapi berbagai persoalan.
Menurutnya, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilakukan secara mendadak. Anak-anak yang saat ini berada di bangku pendidikan merupakan generasi yang akan mengambil peran dalam pembangunan pada masa mendatang.
“Generasi Emas 2045 itu berkaitan dengan anak-anak yang sedang kita didik sekarang. Mereka yang akan menghadapi masa depan, jadi pendidikan karakter dan perlindungan terhadap anak harus diperhatikan sejak sekarang,” tuturnya.
Ia menambahkan, kualitas generasi mendatang tidak cukup diukur melalui prestasi akademik. Kemampuan mengendalikan diri, menghadapi pengaruh lingkungan, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab juga menjadi bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.













