TARAKAN – Peningkatan produksi belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan pembudidaya. Hal itu menjadi tantangan yang masih dihadapi kelompok masyarakat binaan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara (Kaltara). Di tengah kenaikan volume produksi udang hingga rata-rata lima kali lipat, akses untuk menembus pasar ekspor justru belum dapat diperluas secara optimal.
Persoalan pemasaran menjadi perhatian karena potensi udang Kaltara sebenarnya sudah dikenal di pasar internasional. Bahkan, aktivitas pengiriman hasil perikanan ke luar negeri telah berlangsung sebelum M4CR hadir. Hanya saja, belum semua kelompok pembudidaya memiliki akses dan pola kemitraan yang dapat mendukung pemasaran secara lebih luas.
Coastal Enterprise Coordinator M4CR, Nugroho Sulistyo mengatakan, ekspor udang dari Kaltara bukan sepenuhnya aktivitas baru yang muncul setelah program berjalan. Sejumlah masyarakat bahkan telah melakukan perdagangan ke luar negeri secara tradisional.
“Secara tradisional, mereka sebenarnya sudah melakukan ekspor. Hanya saja, kami belum mencatat seluruh aktivitas tersebut. Banyak juga kelompok di luar binaan kami yang sudah melakukannya,” kata Nugroho.
Ia menjelaskan, salah satu modal yang dimiliki udang Kaltara adalah karakteristik produk budidayanya. Penggunaan pakan yang relatif sedikit membuat udang dari daerah ini memiliki citra tersendiri di kalangan pembeli luar negeri. Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi keunggulan untuk memperkuat posisi produk perikanan Kaltara di pasar ekspor.
“Udang dari Kaltara dikenal dan disukai pasar luar negeri karena dianggap sebagai udang organik, dengan penggunaan pakan yang tidak terlalu banyak. Ini merupakan nilai tambah bagi produk kita,” jelasnya.
Meski potensi pasar sudah tersedia, persoalan berikutnya adalah bagaimana memastikan kelompok pembudidaya dapat terhubung dengan jaringan perdagangan internasional. M4CR telah mencoba mendata kelompok yang berpeluang mendapatkan fasilitasi ekspor, sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama dengan sejumlah perusahaan eksportir.
Namun, upaya tersebut tidak sesederhana mempertemukan pembudidaya dengan perusahaan pembeli. Nugroho mengungkapkan, sebagian kelompok binaan ternyata telah mempunyai badan usaha sendiri. Keberadaan perusahaan yang dikelola kelompok tersebut membuat skema kemitraan dengan eksportir lain perlu disesuaikan.
“Kami terus mencoba membangun kerja sama dengan beberapa perusahaan eksportir. Namun, ada beberapa hambatan yang membuat upaya fasilitasi tersebut belum terlaksana,” ungkapnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas produksi dan perluasan akses pasar merupakan dua persoalan berbeda. Kelompok masyarakat yang sudah mampu meningkatkan hasil budidaya tetap membutuhkan jaringan pemasaran yang sesuai dengan kelembagaan dan kepentingan usaha masing-masing.
Di sisi lain, hasil pemantauan M4CR menunjukkan perkembangan cukup besar dari sisi produksi. Volume hasil budidaya kelompok binaan tercatat meningkat sekitar tiga hingga lima kali lipat dibandingkan sebelum program dilaksanakan. Secara rata-rata, kenaikannya mencapai lima kali lipat.
Meski demikian, Nugroho mengingatkan agar capaian tersebut tidak langsung diterjemahkan sebagai peningkatan pendapatan masyarakat. Sebab, bertambahnya volume produksi belum tentu menghasilkan nilai penjualan yang lebih tinggi apabila terjadi perubahan harga komoditas.
“Peningkatan yang baru bisa kami lihat adalah dari sisi produksi, belum pada peningkatan nilai tambah dalam rupiah. Sebab, kenaikan produksi tidak selalu berbanding lurus dengan nilai pendapatan karena harga komoditas bisa berubah,” pungkasnya.













