TARAKAN – Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS menjadi salah satu bekal yang diberikan kepada peserta didik pendidikan kesetaraan di Kota Tarakan. Materi tersebut dihadirkan agar peserta didik memiliki pengetahuan dasar untuk menjaga diri dan memahami risiko kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
UPT SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan menggandeng seorang dokter swasta yang menjadi mitra Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyampaikan edukasi tersebut. Penyampaian materi dilakukan dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan pihaknya menghadirkan narasumber sesuai bidang keahlian agar peserta didik memperoleh penjelasan langsung dari pihak yang memahami materi.
“Kami kerja sama dengan BNN, selanjutnya akan membawakan materi terkait bahaya narkoba dan dampaknya. Ada juga dari dokter swasta, membahas tentang pencegahan HIV/AIDS,” ujar Patmaria.
Menurut Patmaria, peserta didik pendidikan kesetaraan memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam. Karena itu, pembekalan tidak hanya berfokus pada pengenalan sistem pembelajaran, tetapi juga menyentuh persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Materi pencegahan HIV/AIDS disampaikan oleh dokter yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Dengan menghadirkan tenaga medis, SKB ingin peserta didik mendapatkan informasi dari narasumber yang memiliki pengetahuan di bidang kesehatan.
“Jadi dari BNN yang bergabung, kemudian ada dokter yang membahas tentang pencegahan HIV/AIDS. Kami ingin anak-anak mendapatkan pemahaman dari orang yang memang mengetahui bidang tersebut,” ujarnya.
Patmaria menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya SKB menyesuaikan pembekalan dengan kebutuhan peserta didik Paket A, Paket B, dan Paket C. Sebagian peserta didik merupakan warga yang kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat berhenti sekolah.
“Kita tahu dengan posisi anak-anak di sini, anak-anak putus sekolah dengan berbagai permasalahan. Kami memberikan materi-materi yang seperti ini, tujuannya untuk mencegah supaya hal-hal yang seperti ini tidak terjadi,” katanya.
Rangkaian pengenalan lingkungan belajar itu berlangsung selama empat hari. Selain edukasi pencegahan HIV/AIDS dan bahaya narkoba, peserta didik juga mendapatkan materi pembentukan karakter, pengenalan lingkungan SKB, serta penjelasan mengenai sistem pembelajaran pendidikan kesetaraan.
Pada hari terakhir, SKB turut mengagendakan pertemuan bersama orang tua peserta didik. Patmaria mengatakan materi kegiatan disusun dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan peserta didik agar pembekalan yang diberikan dapat bermanfaat selama mereka mengikuti pendidikan.
“Kita lebih melihat kebutuhan anak-anak. Jadi materi yang diberikan memang menyesuaikan dengan kondisi mereka,” tandasnya.












