TARAKAN – Posisi Kota Tarakan sebagai daerah transit dinilai membuat masyarakat, termasuk kalangan pelajar, perlu memiliki pemahaman mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika. Karena itu, UPT SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberikan edukasi kepada peserta didik pendidikan kesetaraan.
Pembekalan tersebut menyasar peserta didik Paket A, Paket B, dan Paket C yang memiliki latar belakang berbeda. Sebagian di antaranya kembali mengenyam pendidikan setelah sempat putus sekolah dan menghadapi berbagai persoalan dalam perjalanan hidupnya.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan edukasi bahaya narkoba diberikan sebagai upaya membangun kesadaran sejak awal agar peserta didik tidak mudah terpengaruh lingkungan yang berisiko.
“Kami kerja sama dengan BNN, selanjutnya akan membawakan materi terkait bahaya narkoba dan dampaknya,” ujar Patmaria.
Menurut dia, pemahaman mengenai narkotika perlu diberikan karena peserta didik harus mampu mengenali risiko penyalahgunaan narkoba dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih, Tarakan merupakan daerah transit yang memiliki mobilitas keluar masuk barang dan orang.
“Kota Tarakan ini sebagai kota transit, proses masuk yang namanya narkoba itu mudah sekali. Nah, dari awal memang sudah kami upayakan supaya anak-anak tidak terpengaruh,” tuturnya.
Patmaria menjelaskan, peserta didik pendidikan kesetaraan berasal dari kondisi sosial dan pengalaman yang beragam. Hal itu menjadi pertimbangan SKB dalam menentukan materi pembekalan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kita tahu dengan posisi anak-anak di sini, anak-anak putus sekolah dengan berbagai permasalahan. Kami memberikan materi-materi yang seperti ini, tujuannya untuk mencegah supaya hal-hal yang seperti ini tidak terjadi,” katanya.
Edukasi bersama BNN tersebut menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pendidikan kesetaraan yang berlangsung selama empat hari. Selain bahaya narkoba, peserta didik juga mendapatkan materi pembentukan karakter, pengenalan lingkungan SKB, serta sistem pembelajaran.
Pada hari terakhir, kegiatan juga diisi dengan pertemuan bersama orang tua. SKB berharap pembekalan tersebut menjadi bekal bagi peserta didik sebelum menjalani proses pembelajaran sekaligus membantu mereka lebih waspada terhadap berbagai risiko di lingkungan sekitar.
“Kita lebih melihat kebutuhan anak-anak. Jadi materi yang diberikan memang menyesuaikan dengan kondisi mereka,” tandasnya.













