TARAKAN – Upaya mempertahankan bahasa Tidung di lingkungan pendidikan Kota Tarakan masih menghadapi persoalan keterbatasan tenaga pengajar. Meski bahasa daerah tetap diajarkan sebagai muatan lokal pada jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), pelaksanaannya belum sepenuhnya ditopang guru yang memiliki latar belakang pendidikan khusus bahasa daerah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan Tamrin Toha mengatakan, kondisi tersebut membuat sekolah selama ini lebih banyak mengandalkan guru yang memang merupakan penutur asli bahasa Tidung. Menurutnya, belum banyak tenaga pendidik yang secara khusus memiliki kualifikasi akademik di bidang bahasa daerah.
“Cuma memang kendalanya kita masih memanfaatkan guru-guru yang penutur asli. Karena kan tidak ada guru yang memang spesial mendapatkan ijazah bahasa daerah, misalnya seperti di Jawa,” ungkapnya, Minggu (6/9).
Menurut Tamrin, keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kebutuhan guru bahasa Tidung harus dipenuhi melalui mekanisme rekrutmen. Terlebih, pengadaan tenaga pendidik juga harus menyesuaikan formasi dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah.
Karena itu, ia menilai keberadaan program studi bahasa daerah di perguruan tinggi dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang. Dengan adanya pendidikan khusus tersebut, kebutuhan tenaga pengajar bahasa daerah dapat dipenuhi oleh lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus memahami karakter bahasa yang diajarkan.
“Mungkin penting juga ke depannya ada jurusan di perguruan tinggi yang menyediakan program pembelajaran bahasa tradisional. Karena ketersediaan guru yang memiliki kompetensi ini masih jarang,” ujarnya.
Di sisi lain, Disdik Tarakan juga tengah mempersiapkan pembelajaran bahasa Inggris yang direncanakan mulai diberikan kepada siswa kelas III SD pada tahun depan. Berbeda dengan bahasa Tidung yang selama ini mengandalkan penutur asli, guru untuk pembelajaran bahasa Inggris mulai dipersiapkan melalui bimbingan teknis (bimtek).
“Sehingganya mulai tahun ini itu sudah mulai dibimtek,” terangnya.
Sementara itu, Kepala SD Utama 2 Tarakan Maksum menilai pembelajaran bahasa asing maupun bahasa daerah tidak akan maksimal apabila siswa hanya menerima materi secara teori. Menurutnya, praktik penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting agar kemampuan siswa tidak berhenti pada hafalan.
“Tidak seberapa signifikan perkembangannya karena tidak ada prakteknya. Paling hanya menghafal, setelah itu lupa lagi karena tidak dipakai,” pungkasnya.













