TARAKAN – Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala dalam pengembangan sarana pendidikan di Kota Tarakan. Sejumlah sekolah berada di kawasan yang sudah padat sehingga penambahan ruang kelas tidak mudah dilakukan dengan memperluas bangunan secara horizontal.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., mengatakan kondisi lahan menjadi pertimbangan penting ketika pemerintah merencanakan penambahan fasilitas sekolah. Sekolah yang masih memiliki lahan tentu lebih mudah dikembangkan, sedangkan sekolah dengan lahan terbatas membutuhkan pola pembangunan berbeda.
“Kalau lahannya masih ada, kita bisa menambah ruang kelas. Tetapi kalau lahannya sudah tidak memungkinkan, kita harus mencari alternatif lain. Salah satunya pembangunan secara vertikal, tentu dengan melihat kondisi bangunan dan kebutuhan sekolah,” kata Tamrin.
Pilihan membangun gedung bertingkat memungkinkan kapasitas ruang belajar ditambah tanpa harus memperluas area sekolah. Namun, opsi tersebut membutuhkan perhitungan teknis yang lebih matang karena menyangkut kekuatan struktur bangunan, desain, hingga pembiayaan.
Tamrin menyebut bangunan sekolah yang akan dikembangkan secara vertikal harus terlebih dahulu dilihat kelayakannya. Jika struktur bangunan lama tidak mendukung, penanganannya dapat membutuhkan pekerjaan yang lebih besar, termasuk pembongkaran dan pembangunan kembali.
“Tidak semua bangunan bisa langsung ditambah lantai. Kita harus lihat dulu struktur bangunannya. Kalau memang memungkinkan, bisa dikembangkan dua atau tiga lantai. Tetapi kalau bangunan lamanya tidak mendukung, tentu perhitungannya berbeda,” ujarnya.
Kondisi tersebut cukup relevan bagi sekolah yang berada di kawasan dengan kepadatan permukiman tinggi. Disdik perlu memperhitungkan antara ketersediaan lahan, jumlah peserta didik dan kebutuhan ruang belajar sebelum menentukan bentuk intervensi.
Selain pembangunan vertikal, penambahan fasilitas juga dapat dilakukan melalui program revitalisasi satuan pendidikan. Usulan disusun berdasarkan kondisi sarana dan prasarana masing-masing sekolah sehingga bentuk penanganannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Menurut Tamrin, keterbatasan lahan membuat pembangunan sekolah membutuhkan perencanaan jangka panjang. Setiap tambahan ruang harus dihitung agar pemanfaatan lahan yang tersedia tetap efektif tanpa mengabaikan keamanan dan kenyamanan peserta didik.
“Yang paling penting jangan sampai kita membangun hanya karena mengejar tambahan ruangan, tetapi kemudian tidak sesuai dengan kondisi lahannya. Semua harus dihitung, termasuk struktur dan kebutuhan sekolah ke depan,” jelasnya.
Disdik Tarakan akan terus memetakan sekolah yang membutuhkan pengembangan fasilitas. Bagi sekolah yang masih memiliki lahan, penambahan bangunan menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan. Sementara pada lokasi dengan lahan terbatas, pembangunan bertingkat menjadi salah satu alternatif yang dapat dikaji.
“Kita akan lihat sekolahnya satu per satu. Kebutuhannya apa, lahannya bagaimana, kemudian bentuk pembangunannya seperti apa. Jadi penanganannya memang harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah,” pungkas Tamrin.













