TARAKAN – Kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap harus berlangsung meski ketersediaan tenaga pendidik belum sepenuhnya seimbang dengan kebutuhan. Kondisi tersebut membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan mencari langkah sementara agar kekosongan pengajar di sejumlah kelas tidak mengganggu proses pembelajaran.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan mahasiswa yang tengah menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Mahasiswa dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), ditempatkan untuk membantu sekolah sesuai kebutuhan.
Kepala Disdik Tarakan Tamrin Toha mengatakan, kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan di tengah keterbatasan penambahan tenaga pendidik. Mahasiswa PLP dapat membantu menangani kelas yang belum memiliki guru selama masa praktik berlangsung.
“Caranya mengantisipasi, kita kerja sama dengan Universitas Borneo Tarakan, dalam hal ini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang memprogramkan PLP. Itulah yang kita manfaatkan untuk meng-handle kelas-kelas yang kosong,” tuturnya, Jumat (4/9).
Namun, keberadaan mahasiswa tersebut bukan sebagai pengganti guru secara tetap. Penugasan hanya bersifat sementara dan mengikuti batas waktu pelaksanaan program PLP.
“Sifatnya sementara saja diperbantukan sampai masa PLP-nya habis,” ujarnya.
Menurut Tamrin, persoalan kebutuhan guru juga berbeda antara jenjang SD dan SMP. Pada tingkat SD, kebutuhan pengajar cenderung berkaitan dengan wali kelas yang menangani satu kelas. Sementara di SMP, kekurangan lebih terasa pada mata pelajaran tertentu karena membutuhkan guru dengan latar belakang bidang studi yang sesuai.
Beberapa mata pelajaran yang masih menjadi perhatian di jenjang SMP di antaranya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Seni Budaya, serta Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Sementara itu, ketersediaan guru olahraga saat ini masih dinilai mencukupi. Meski demikian, Disdik mulai mengantisipasi kebutuhan beberapa tahun mendatang karena bidang tersebut memiliki keterbatasan pengganti dari jurusan lain.
“Kalau olahraga saat ini masih cukup, nah itu kami khawatir juga dua-tiga tahun ke depan. Saat ini masih aman, tidak tahu beberapa tahun ke depan. Guru olahraga ini termasuk sulit karena ada jurusan sendiri dan guru pelajaran lain tidak bisa menggantikan guru olahraga,” pungkasnya.












