TARAKAN – Pengaruh pergaulan terkadang membuat pelajar mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi. Termasuk ketika berada di jalan raya, saat ajakan teman atau keinginan untuk menunjukkan keberanian justru dapat mengabaikan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan. Pengawas Sekolah Disdik Tarakan, Alimin, menilai pendidikan keselamatan berlalu lintas perlu menjadi bagian dari pembinaan karakter siswa di lingkungan sekolah.
Menurutnya, pelajar tidak cukup hanya mengetahui larangan dan aturan berkendara. Mereka juga perlu memahami konsekuensi dari setiap tindakan agar mampu mempertimbangkan keselamatan sebelum mengambil keputusan.
“Kalau anak-anak hanya tahu ada aturan, belum tentu mereka memahami risikonya. Jadi, kami sampaikan juga mengapa keselamatan itu penting dan apa akibatnya kalau seseorang tidak berhati-hati di jalan,” ujar Alimin.
Ia mengatakan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan anak mengikuti perilaku teman sebaya. Dalam pergaulan, sebagian pelajar terkadang merasa perlu mengikuti ajakan kelompok agar tidak dianggap takut atau berbeda dari teman-temannya.
Padahal, situasi di jalan raya membutuhkan kemampuan untuk menilai kondisi dan mengambil keputusan sendiri. Pelajar harus memiliki keberanian menolak ajakan yang berpotensi membahayakan.
“Kadang anak-anak mengikuti teman karena tidak mau kalah atau dianggap takut. Padahal, di jalan kita tidak sedang berlomba. Mereka harus bisa menilai situasi dan tidak asal mengikuti ajakan orang lain,” jelasnya.
Karena itu, edukasi keselamatan perlu disampaikan melalui pendekatan yang mudah dipahami siswa. Guru maupun pengawas sekolah dapat menyisipkan pesan keselamatan dalam kegiatan pembinaan, sehingga materi yang diberikan tidak sebatas teori, tetapi berkaitan dengan pengalaman sehari-hari pelajar.
Selain lingkungan pendidikan, keluarga juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk perilaku tertib berlalu lintas. Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan nasihat, tetapi turut memperlihatkan contoh berkendara yang aman ketika bepergian bersama anak.
“Kalau di sekolah sudah diberikan pemahaman, di rumah juga sebaiknya diingatkan. Orang tua bisa memberi contoh saat berkendara dan mengajak anak berbicara tentang keselamatan. Jadi, anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga melihat praktiknya,” tutur Alimin.
Ia menambahkan, pembentukan kesadaran keselamatan tidak bisa dilakukan melalui sosialisasi satu kali. Diperlukan pengulangan pesan dan pendampingan secara berkelanjutan agar pelajar terbiasa mempertimbangkan risiko sebelum bertindak.
“Intinya, anak-anak harus paham risiko dari setiap tindakan di jalan. Jangan sampai keputusan sesaat justru membahayakan diri sendiri atau orang lain. Keselamatan harus selalu diutamakan,” pungkasnya.













